Bapak Ibu guru Geografi yang mau UKG 2015 silahkan baca sebagai panduan dalam mengisi soal pedagogik geografi, biar tidak terlalu aneh.
INDIKATOR ESENSI PEDAGOGIK MATA PELAJARAN GEORAFI
1. Menjelaskan fungsi media pembelajaran
2. Menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran
3. Penerapan TIK dalam pembelajaran
Untuk mempercepat dan mempermudah mendapatkan informasi maka TIK dapat digunakan dalam pembelajaran melalui
a. Searshing dan brosing
b. Penggunaan power point
c. Mempresentasikan suatu tugas pembelajaran
d. Mengolah dan menyimpan data
e. Alat komunikasi yang cepat aantara peserta didik, guru dan orang tua.
4. Menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran
media pembelajaran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya. Untuk itu diperlukan strategi dalam pemilihan media pembelajaran, khususnya pembelajaran geografi. Media pembelajaran geografi harus disesuaikan dengan materi pelajaran, mengingat pelajaran geografi sangat luas yang terdiri dari konsep abstrak dan konsep konkret.
5. Menjelaskan pengertian media dan sumber belajar
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu
Ada beberapa kriteria umum yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media. Namun demikian secara teoritik bahwa setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan yang akan memberikan pengaruh kepada efektivitas program pembelajaran. Sejalan dengan hal itu, pendekatan yang ditempuh adalah mengkaji media sebagai bagian integral dalam proses pendidikan yang kajiannya akan sangat dipengaruhi beberapa kriteria umum, yaitu kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, materi, fasilitas, karakteristik siswa, gaya belajar, dan teori.
6. Menjelaskan kriteria pemilihan media
Menurut Allen, terdapat sembilan kelompok media, yaitu: visual diam, film, televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran terprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan. Di samping mengklasifikasikan, Allen juga mengaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Allen melihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain: info faktual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan, dan sikap. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar; ada tinggi, sedang, dan rendah.
Menurut Gerlach dan Ely, media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok, yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram, dan simulasi.
Menurut Ibrahim, media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua dimensi; media tanpa proyeksi tiga dimensi; media audio; media proyeksi; televisi, video, komputer.
7. Menganalisis gaya belajar peserta didik
• Menurut Fleming dan Mills (1992), gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran.
• Drummond (1998:186) mendefinisikan gaya belajar sebagai, “an individual’s preferred mode and desired conditions of learning.” Maksudnya, gaya belajar dianggap sebagai cara belajar atau kondisi belajar yang disukai oleh pembelajar.
• Willing (1988) mendefinisikan gaya belajar sebagai kebiasaan belajar yang disenangi oleh pembelajar. Keefe (1979) memandang gaya belajar sebagai cara seseorang dalam menerima, berinteraksi, dan memandang lingkungannya. Dunn dan Griggs (1988) memandang gaya belajar sebagai karakter biologis bawaan
Macam-macam Gaya Belajar
1.Visual (belajar dengan cara melihat)
2. Auditori (belajar dengan cara mendengar)
3. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
8. Menjelaskan pola pikir pembelajaran yang mendidik berdasarkan Kurikulum 2013
Pola pembelajaran
Perubahan dan penyempurnaan pola pikir dalam kurikulum 2013 sesuai dengan peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 69 tahun 2013 adalah sebagai berikut:
1. Pola pembelajaran berpusat pada guru (teacher`s centered) berubah menjadi pembelajaran berpusat pada siswa (student`s centered).
2. Pola pembelajaran satu arah (guru-peserta didik) menjadi pembelajaran interaktif ( guru-peserta didik-masyarakat -lingkungan alam dan sumber/media belajar lainnya)
3. Pola pembelajaran terisolasi menjadi pola pembelajaran berbasis jaringan artinya dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dimana saja.
4. Pola pembelajaran pasif menjadi pola pembelajaran aktif dan kritis
5. Pola pembelajaran sendiri menjadi kelompok / tim
6. Pola pembelajaran tunggal menjadi pola pembelajaran multi media
7. Pola pembelajaran berbasis massal menjadi pola pembelajaran berbasis keutuhan (user)
8. Pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodisciplin) menjadi pembelajaran berbasis jamak (multidiscipline)
9. Menerapkan langkah-langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran
a. Mengamati (menentukan obyek yang akan diobservasi, pedoman observasi, data yang perlu diobservasi, tempat obyek observasi, cara mengobservasi, pencatatan hasil observasi)
b. Menanya
c. Mengumpulkan informasi (melakukan eksperimen, membaca sumber lain, mengamati obyek/kejadian, mewawancari nara sumber)
d. Menalar/mengasosiasi (guru menyusun bahan pembelajaran, member intruksi singkat, pembelajaran disusun berjenjang, berorientasi pada hasil)
e. Mengkomunikasikan.
10. Menjelaskan langkah-langkah model model pembelajaran berbasis masalah
Tahap-1 Orientasi peserta didik pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.
Tahap-2 Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
Guru membantu peserta didik untuk mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungandengan masalaht ersebut
Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
11. Menerapkan langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan model-model pembelajaran berbasis masalah
John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika memaparkan 6 langkah dalam pembelajaran berbasis masalah ini :
a.Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik untuk menentukan masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran, walaupun sebenarnya guru telah menetapkan masalah tersebut.
b.Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
c.Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
d.Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan menggambarkan berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
e.Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam merumuskan dan mengambil kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan
f.Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah peserta didik menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
12. Menganalisis karakteristik model-model pembelajaran berbasis masalah
Komponen-komponen pembelajaran berbasisi masalah dikemkakan oleh Arends, diantaranya adalah :
a.Permasalahan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermanfaat bagi peserta didik. Permasalahan yang dihadapi peserta didik dalam dunia nyata tidak dapat dijawab dengan jawaban yang sederhana.
bFokus interdisipliner. Dimaksudkan agar peserta didik belajar berpikir struktural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan.
c.Pengamatan autentik. Hal ini dinaksudkan untuk menemukan solusi yang nyata. Peserta didik diwajibkan untuk menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat inferensi, dan menarik kesimpulan.
d.Produk. Peserta didik dituntut untuk membuat produk hasil pengamatan.produk bisa berupa kertas yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain.
e.Kolaborasi. Dapat mendorong penyelidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.
12. Menerapkan model-model pembelajaran kooperatif
BEBERAPA MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING
1. MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY
Model pembelajaran Two Stay Two Stray / Dua Tinggal Dua Tamu merupakan model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan dengan cara saling mengunjungi/bertamu antar kelompok untuk berbagi informasi.
2. MODEL PEMBELAJARAN KELILING KELOMPOK
Dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas. Dalam kegiatan keliling kelompok, masing-masing anggota kelompok berkesempaatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan anggota yang lain.
3. MAKE A MATCH (MENCARI PASANGAN)
Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Bisa diteraapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.
4. MODEL PEMBELAJARAN BERTUKAR PASANGAN
Teknik metode pembelajaran bertukar pasangan merupakan model pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dengan orang lain. Model pembelajarn ini bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.
5. MODEL PEMBELAJARAN CO-OP CO-OP
Co-op co-op adalah sebuah bentuk group investigation yang menempatkan tim dalam kooperasi antara satu dengan yang lainnya (seperti namanya) untuk mempelajari sebuah topik di kelas.
6. MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE (LEARNING TOGETHER) LT
Pada pembelajaran kooperatif tipe LT setiap kelompok diharapkan bisa membangun dan menilai sendiri kinerja kelompok mereka. Masing-masing kelompok harus bisa memperlihatkan bahwa kelompok mereka adalah kelompok yang kompak baik dalam hal diskusi maupun dalam hal mengerjakan soal, setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas hasil yang mereka peroleh. Jika hasil tersebut belum maksimal atau lebih rendah dari kelompok lain maka mereka harus meningkatkan kinerja kelompoknya.
TEAM PRODUCT (TP)
Dinamakan Team product karena setiap kelompok diminta untuk berkreasi atau menciptakan sesuatu. Misalnya, guru meminta siswa berkelompok untuk menulis sebuah esai, mengerjakan tugas, mendaftar solusi-solusi altermatif tentang masalah tertentu, atau menganalisis puisi. semua hal yang dilakukan oleh setiap kelompok haruslah berbentuk produk, baik itu abstrak maupun konkret. untuk memastikan adanya tanggung jawab individu, guru dapat memberikan peran atau tugas yang berbeda-beda pada masing-masing anggota dalam setiap kelompok untuk menciptakan satu produk kelompok.
8. MODEL PEMBELAJARAN INSIDE OUTSIDE CIRCLE (lingkaran dalam- lingkaran luar)
Kelebihan model pembelajaran inside outside circle:
• Tidak ada bahan spesifikasi yang dibutuhkan untuk strategi . Sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam pelajaran
• Kegiatan ini dapat membangun sifat kerjasama antar siswa
• Mendapatkan informasi yang berbeda pada saat bersamaan.
Kekurangan model pembelajaran inside outside circle:
• Membutuhkan ruang kelas yang besar.
• Terlalu lama sehingga tidak konsentrasi dan disalahgunakan untuk bergurau.
• Rumit untuk dilakukan.
9. SPONTANEOUS GROUP DISCUSSION (SGD)
Dikenal dengan istilah spontaneous group discussion karena diskusi kelompok ini tidak direncanakan sebelumnya, tetapi dilaksanakan secara spontan. Teknik pelaksanaannya pun sederhana, yaitu meminta siswa untuk berkelompok dan berdiskusi tentang sesuatu. setelah itu, guru memanggil kelompok itu satu per satu untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Diskusi ini bisa dilaksanakan beberapa menit atau sepanjang jam pelajaran. Akan tetapi, meskipun spontan diskusi kelompok ini tetap mengharuskan guru untuk memperhatikan lima elemen pembelajaran kooperatif. Interpredensi positif, akuntabilitas individu, interaksi promotif, keterampilan sosial, dan pemrosesan kelompok.
10. Listening Team
Strategi Listening Team ini bertujuan membentuk kelompok yang mempunyai tugas atau tanggung jawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran sehingga akan diperoleh partisipasi aktif siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
.
11. METODE PEMBELAJARAN - SNOWBALL THROWING
Metode Snowball Throwing yaitu metode pembelajaran yang didalam terdapat unsur-unsur pembelajaran kooperatif sebagai upaya dalam rangka mengarahkan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
12. MODEL PEMBELAJARAN TARI BAMBU
Pembelajaran dengan model Bamboo Dancing sama dengan metode inside circle.Pembelajaran diawali dengan pengenalan topik oleh guru. Guru bisa menuliskan topik tersebut di papan tulis atau guru bisa juga mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang apa yang mereka ketahui tentang materi tersebut. Kegiatan sumbang saran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan struktur kognitif yang telah dimiliki peserta didik agar lebih siap menghadapi pelajaran yang baru.
13. KEPALA BERNOMOR TERSTRUKTUR (STRUCTURED NUMBERED HEADS)
Langkah-langkah model pembelajaran terstruktur:
1. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor.
2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya.
3. Jika perlu (untuk tugas-tugas yang lebih sulit) guru juga bisa melibatkan kerja sama antarkelompok. Siswa diminta keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama siswa-siswa yang bernomor sama dari kelompok lain. Dengan demikian, siswa-siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja mereka.
13. Menjelaskan karakteristik materi pembelajaran
Membicarakan mengenai pengertian bahan ajar tidak akan sempurna jika Anda tidak memahami karakteristik dari bahan ajar. Berikut ini lima karakteristik bahan ajar yang dikelompokkan oleh Widodo serta Jasmadi di (dalam Lestari, 2013:2)
1. Self instructional. Maksud dari self instructional ini tidak lain adalah seperangkat bahan ajar yang berbentuk cetak maupun online harus dapat bermanfaat dan digunakan oleh siswa secara individual. Setiap siswa tentunya memiliki kebutuhan akan buku pelajaran sebagai penunjang atau media yang dapat memudahkan pelaksanaan pembelajaran itu berlangsung. Memiliki bahan ajar mandiri dapat meningkatkan kesadaran seseorang untuk mau mencoba menyelesaikan tugasnya secara mandiri tanpa melihat hasil kerja orang lain. Bahan ajar akan memudahkan siswa yang seringkali mengalami kesulitan ketika hendak menyelesaikan tugas, bahan ajar juga dapat membantu siswa menghadapi ujian.
2. Self contained, merupakan suatu bentuk informasi cetak dan tertulis yang sengaja disajikan untuk dipelajari oleh siswa yang berisikan semua materi atau teori pelajaran, dan dikelompokkan dalam satu halaman atau satu unit kompetensi dan juga disertai dengan sub kompetensi. Siswa dapat mempelajari semua ilmu pengetahuan yang perlu dipelajari setelah itu siswa dapat mencoba untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan di setiap babnya dengan tujuan untuk mempertajam pengetahuan serta penguasaan ilmu yang telah dipelajarinya dari bahaj ajar tersebut.
3. Stand alone, dikatakan bahan ajar jikalau dia bisa bertahan sendiri, yakni tidak membutuhkan bantuan dari bahan ajar lainnya. Bahan ajar yang baik sudah mencakup segala materi pelajaran sehingga tidak membutuhkan bahan ajar lain untuk melengkapinya.
4. Adaptive, bahan ajar yang baik tidak hanya bisa bertahan sendiri, namun juga bisa mengikuti perkembangan teknologi. Anda dapat mencari bahan ajar yang baik, bukan hanya berisi akan sumber ilmu saja, melainkan juga diciptakan dengan cara yang lebih tinggi kualitasnya.
5. User friendly, bahan ajar yang sempurana seharusnya dapat memudahkan penggunanya ketika hendak memakainya.
14. Mengidentifikasi permasalahan pembelajaran yang dapat diselesaikan dengan PTK
Bidang kajian yang dapat dikembangkan sebagai masalah dalam PTK adalah sebagai berikut :
a. Masalah belajar siswa di sekolah, seperti : masalah belajar di kelas, kesalahan pembelajaran, miskonsepsi dan peningkatan hasil belajar siswa.
b. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, seperti : masalah pengelolaan dan interaksi di dalam kelas, partisipasi orang tua dalam proses belajar-mengajar siswa.
c. Alat bantu , media dan sumber belajar, seperti : masalah penggunaan media, perpustakaan dan sumber belajar didalam dan diluar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat.
d. Sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran seperti pengembangan instrumen dalam penilaian kelas.
e. Pengembangan pribadi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan seperti : keefektifan hubungan antara pendidik, peserta didik dan orang tua dalam dalam proses belajar-mengajar serta peningkatan konsep diri peserta didik.
f. Masalah kurikulum, seperti,seperti implementasi kurikulum urutan penyajian materi pokok, interaksi guru siswa, siswa materi ajar, dan siswa-lingkungan belajar.
15. Memberi contoh tahapan siklus PTK
Siklus PTK dilaksanakan dengan 4 kegiatan utama atau tahapan yaitu Plan (perencanaan). Action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi).
a. Perencanaan (Plan)
Pada tahap perencanaan ini peneliti menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), menyusun tes hasil belajar Ulangan Harian (UH), Pekerjaan Rumah (PR), dan membuat lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan (Action)
Pelaksanaan tindakan dilakukan pada proses pembelajaran secara terstruktur sesuai dengan Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan menerapkan pembelajaran Quantum Teaching.
c. Pengamatan (Observation)
Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas, interaksi dan kemajuan belajar siswa selama pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Pengamatan bertujuan untuk mengamati apakah ada hal-hal yang harus segera diperbaiki agar tindakan yang dilakukan mencapai tujuan yang diinginkan.
d. Refleksi (reflection)
Kegiatan refleksi yaitu mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan, kelemahan, dan kekurangan dari proses pembelajaran yang dilakukan diperbaiki dengan rencana selanjutnya.
16. Menentukan judul penelitian yang sesuai untuk PTK
Judul PTK harus memuat unsur-unsur sebagai berikut: (1) ada masalah yang akan diteliti (variable Y); (2) ada tindakan untuk mengatasi masalah (variabel X); (3) ada subjek (siswa kelas ….); dan (4) lokasi yang spesifik (tempat & waktu penelitian). Sedangkan pola judul dalam PTK adalah:
(1) Penerapan X untuk Meningkatkan Y pada Mata Pelajaran … Kelas … Sekolah ….; (2) Upaya Meningkatkan Y Melalui X pada Mata Pelajaran …. Kelas … Sekolah …;
(3) Optimalisasi X untuk Meningkatkan Y pada Mata Pelajaran ….. Kelas …. Sekolah …; (4) Peningkatan Y Melalui X pada Mata Pelajaran … Kelas … Sekolah; Dan
(5) Peningkatan Y dengan Menerapkan X pada Mata Pelajaran …. Kelas …. Sekolah ….
17. Menemukan perbedaan PTK dengan penelitian formal lainnya
PTK
a. Dilakukan oleh kepala sekolah, guru atau calon guru.
b. Dilakukan di kelas atau di sekolah
c. Kerepresentatifan sampel tidak menjadi syarat penting
d. Lebih mengutamakan validitas internal
e. Tidak menuntut penggunaan analisis statistik yang rumit. Menggunakan metode kualitatif untuk mendeskripsikan apa yang terjadi dan memahami dampak suatu intervensi pendidikan (tindakan)
f. Tidak selalu menggunakan hipotesis
g. Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung
h. Hasil peelitian merupakan peningkatan mutu pembelajaran di lingkungan pembelajaran tertentu tempat dilakukannya PTK
i. Berlangsung secara siklus(berdaur)
j. Kolaboratif dan kooperatif.
PENELITIAN FORMAL
a. Dilakukan oleh orang luar kelas, misalnya dosen ilmuwan, mahasiswa yang melakukan eksperimen tertentu.
b. Di lingkungan dimana variabel-variabel luar dapat dikendalikan.
c. Sampel harus representatif
d. Mengutamakan validitas internal dan eksternal.
e. Menuntut adanya penggunaan analisis statistik yang rumit, signifikansi statistik yang dtentukan sejak awal, dan memeriksa hubungan sebab akibat antar variabel.
e. Mempersyaratkan hipotesis.
f. Mengembangkan teori dan tidak memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung.
g. Hasil penelitian merupakan produk ilmu yang dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas.
h. Berlangsung secara linear ( bergerak maju)
i. Tidak kolaboratif dan individual.
18. Menjelaskan kegiatan inti
Kegiatan ini merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik
INDIKATOR ESENSI PEDAGOGIK MATA PELAJARAN GEORAFI
1. Menjelaskan fungsi media pembelajaran
2. Menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran
3. Penerapan TIK dalam pembelajaran
Untuk mempercepat dan mempermudah mendapatkan informasi maka TIK dapat digunakan dalam pembelajaran melalui
a. Searshing dan brosing
b. Penggunaan power point
c. Mempresentasikan suatu tugas pembelajaran
d. Mengolah dan menyimpan data
e. Alat komunikasi yang cepat aantara peserta didik, guru dan orang tua.
4. Menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran
media pembelajaran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya. Untuk itu diperlukan strategi dalam pemilihan media pembelajaran, khususnya pembelajaran geografi. Media pembelajaran geografi harus disesuaikan dengan materi pelajaran, mengingat pelajaran geografi sangat luas yang terdiri dari konsep abstrak dan konsep konkret.
5. Menjelaskan pengertian media dan sumber belajar
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu
Ada beberapa kriteria umum yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media. Namun demikian secara teoritik bahwa setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan yang akan memberikan pengaruh kepada efektivitas program pembelajaran. Sejalan dengan hal itu, pendekatan yang ditempuh adalah mengkaji media sebagai bagian integral dalam proses pendidikan yang kajiannya akan sangat dipengaruhi beberapa kriteria umum, yaitu kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, materi, fasilitas, karakteristik siswa, gaya belajar, dan teori.
6. Menjelaskan kriteria pemilihan media
Menurut Allen, terdapat sembilan kelompok media, yaitu: visual diam, film, televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran terprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan. Di samping mengklasifikasikan, Allen juga mengaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Allen melihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain: info faktual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan, dan sikap. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar; ada tinggi, sedang, dan rendah.
Menurut Gerlach dan Ely, media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok, yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram, dan simulasi.
Menurut Ibrahim, media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua dimensi; media tanpa proyeksi tiga dimensi; media audio; media proyeksi; televisi, video, komputer.
7. Menganalisis gaya belajar peserta didik
• Menurut Fleming dan Mills (1992), gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran.
• Drummond (1998:186) mendefinisikan gaya belajar sebagai, “an individual’s preferred mode and desired conditions of learning.” Maksudnya, gaya belajar dianggap sebagai cara belajar atau kondisi belajar yang disukai oleh pembelajar.
• Willing (1988) mendefinisikan gaya belajar sebagai kebiasaan belajar yang disenangi oleh pembelajar. Keefe (1979) memandang gaya belajar sebagai cara seseorang dalam menerima, berinteraksi, dan memandang lingkungannya. Dunn dan Griggs (1988) memandang gaya belajar sebagai karakter biologis bawaan
Macam-macam Gaya Belajar
1.Visual (belajar dengan cara melihat)
2. Auditori (belajar dengan cara mendengar)
3. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
8. Menjelaskan pola pikir pembelajaran yang mendidik berdasarkan Kurikulum 2013
Pola pembelajaran
Perubahan dan penyempurnaan pola pikir dalam kurikulum 2013 sesuai dengan peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 69 tahun 2013 adalah sebagai berikut:
1. Pola pembelajaran berpusat pada guru (teacher`s centered) berubah menjadi pembelajaran berpusat pada siswa (student`s centered).
2. Pola pembelajaran satu arah (guru-peserta didik) menjadi pembelajaran interaktif ( guru-peserta didik-masyarakat -lingkungan alam dan sumber/media belajar lainnya)
3. Pola pembelajaran terisolasi menjadi pola pembelajaran berbasis jaringan artinya dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dimana saja.
4. Pola pembelajaran pasif menjadi pola pembelajaran aktif dan kritis
5. Pola pembelajaran sendiri menjadi kelompok / tim
6. Pola pembelajaran tunggal menjadi pola pembelajaran multi media
7. Pola pembelajaran berbasis massal menjadi pola pembelajaran berbasis keutuhan (user)
8. Pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodisciplin) menjadi pembelajaran berbasis jamak (multidiscipline)
9. Menerapkan langkah-langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran
a. Mengamati (menentukan obyek yang akan diobservasi, pedoman observasi, data yang perlu diobservasi, tempat obyek observasi, cara mengobservasi, pencatatan hasil observasi)
b. Menanya
c. Mengumpulkan informasi (melakukan eksperimen, membaca sumber lain, mengamati obyek/kejadian, mewawancari nara sumber)
d. Menalar/mengasosiasi (guru menyusun bahan pembelajaran, member intruksi singkat, pembelajaran disusun berjenjang, berorientasi pada hasil)
e. Mengkomunikasikan.
10. Menjelaskan langkah-langkah model model pembelajaran berbasis masalah
Tahap-1 Orientasi peserta didik pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.
Tahap-2 Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
Guru membantu peserta didik untuk mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungandengan masalaht ersebut
Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
11. Menerapkan langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan model-model pembelajaran berbasis masalah
John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika memaparkan 6 langkah dalam pembelajaran berbasis masalah ini :
a.Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik untuk menentukan masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran, walaupun sebenarnya guru telah menetapkan masalah tersebut.
b.Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
c.Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
d.Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan menggambarkan berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
e.Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam merumuskan dan mengambil kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan
f.Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah peserta didik menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
12. Menganalisis karakteristik model-model pembelajaran berbasis masalah
Komponen-komponen pembelajaran berbasisi masalah dikemkakan oleh Arends, diantaranya adalah :
a.Permasalahan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermanfaat bagi peserta didik. Permasalahan yang dihadapi peserta didik dalam dunia nyata tidak dapat dijawab dengan jawaban yang sederhana.
bFokus interdisipliner. Dimaksudkan agar peserta didik belajar berpikir struktural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan.
c.Pengamatan autentik. Hal ini dinaksudkan untuk menemukan solusi yang nyata. Peserta didik diwajibkan untuk menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat inferensi, dan menarik kesimpulan.
d.Produk. Peserta didik dituntut untuk membuat produk hasil pengamatan.produk bisa berupa kertas yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain.
e.Kolaborasi. Dapat mendorong penyelidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.
12. Menerapkan model-model pembelajaran kooperatif
BEBERAPA MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING
1. MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY
Model pembelajaran Two Stay Two Stray / Dua Tinggal Dua Tamu merupakan model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan dengan cara saling mengunjungi/bertamu antar kelompok untuk berbagi informasi.
2. MODEL PEMBELAJARAN KELILING KELOMPOK
Dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas. Dalam kegiatan keliling kelompok, masing-masing anggota kelompok berkesempaatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan anggota yang lain.
3. MAKE A MATCH (MENCARI PASANGAN)
Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Bisa diteraapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.
4. MODEL PEMBELAJARAN BERTUKAR PASANGAN
Teknik metode pembelajaran bertukar pasangan merupakan model pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dengan orang lain. Model pembelajarn ini bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.
5. MODEL PEMBELAJARAN CO-OP CO-OP
Co-op co-op adalah sebuah bentuk group investigation yang menempatkan tim dalam kooperasi antara satu dengan yang lainnya (seperti namanya) untuk mempelajari sebuah topik di kelas.
6. MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE (LEARNING TOGETHER) LT
Pada pembelajaran kooperatif tipe LT setiap kelompok diharapkan bisa membangun dan menilai sendiri kinerja kelompok mereka. Masing-masing kelompok harus bisa memperlihatkan bahwa kelompok mereka adalah kelompok yang kompak baik dalam hal diskusi maupun dalam hal mengerjakan soal, setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas hasil yang mereka peroleh. Jika hasil tersebut belum maksimal atau lebih rendah dari kelompok lain maka mereka harus meningkatkan kinerja kelompoknya.
TEAM PRODUCT (TP)
Dinamakan Team product karena setiap kelompok diminta untuk berkreasi atau menciptakan sesuatu. Misalnya, guru meminta siswa berkelompok untuk menulis sebuah esai, mengerjakan tugas, mendaftar solusi-solusi altermatif tentang masalah tertentu, atau menganalisis puisi. semua hal yang dilakukan oleh setiap kelompok haruslah berbentuk produk, baik itu abstrak maupun konkret. untuk memastikan adanya tanggung jawab individu, guru dapat memberikan peran atau tugas yang berbeda-beda pada masing-masing anggota dalam setiap kelompok untuk menciptakan satu produk kelompok.
8. MODEL PEMBELAJARAN INSIDE OUTSIDE CIRCLE (lingkaran dalam- lingkaran luar)
Kelebihan model pembelajaran inside outside circle:
• Tidak ada bahan spesifikasi yang dibutuhkan untuk strategi . Sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam pelajaran
• Kegiatan ini dapat membangun sifat kerjasama antar siswa
• Mendapatkan informasi yang berbeda pada saat bersamaan.
Kekurangan model pembelajaran inside outside circle:
• Membutuhkan ruang kelas yang besar.
• Terlalu lama sehingga tidak konsentrasi dan disalahgunakan untuk bergurau.
• Rumit untuk dilakukan.
9. SPONTANEOUS GROUP DISCUSSION (SGD)
Dikenal dengan istilah spontaneous group discussion karena diskusi kelompok ini tidak direncanakan sebelumnya, tetapi dilaksanakan secara spontan. Teknik pelaksanaannya pun sederhana, yaitu meminta siswa untuk berkelompok dan berdiskusi tentang sesuatu. setelah itu, guru memanggil kelompok itu satu per satu untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Diskusi ini bisa dilaksanakan beberapa menit atau sepanjang jam pelajaran. Akan tetapi, meskipun spontan diskusi kelompok ini tetap mengharuskan guru untuk memperhatikan lima elemen pembelajaran kooperatif. Interpredensi positif, akuntabilitas individu, interaksi promotif, keterampilan sosial, dan pemrosesan kelompok.
10. Listening Team
Strategi Listening Team ini bertujuan membentuk kelompok yang mempunyai tugas atau tanggung jawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran sehingga akan diperoleh partisipasi aktif siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
.
11. METODE PEMBELAJARAN - SNOWBALL THROWING
Metode Snowball Throwing yaitu metode pembelajaran yang didalam terdapat unsur-unsur pembelajaran kooperatif sebagai upaya dalam rangka mengarahkan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
12. MODEL PEMBELAJARAN TARI BAMBU
Pembelajaran dengan model Bamboo Dancing sama dengan metode inside circle.Pembelajaran diawali dengan pengenalan topik oleh guru. Guru bisa menuliskan topik tersebut di papan tulis atau guru bisa juga mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang apa yang mereka ketahui tentang materi tersebut. Kegiatan sumbang saran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan struktur kognitif yang telah dimiliki peserta didik agar lebih siap menghadapi pelajaran yang baru.
13. KEPALA BERNOMOR TERSTRUKTUR (STRUCTURED NUMBERED HEADS)
Langkah-langkah model pembelajaran terstruktur:
1. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor.
2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya.
3. Jika perlu (untuk tugas-tugas yang lebih sulit) guru juga bisa melibatkan kerja sama antarkelompok. Siswa diminta keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama siswa-siswa yang bernomor sama dari kelompok lain. Dengan demikian, siswa-siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja mereka.
13. Menjelaskan karakteristik materi pembelajaran
Membicarakan mengenai pengertian bahan ajar tidak akan sempurna jika Anda tidak memahami karakteristik dari bahan ajar. Berikut ini lima karakteristik bahan ajar yang dikelompokkan oleh Widodo serta Jasmadi di (dalam Lestari, 2013:2)
1. Self instructional. Maksud dari self instructional ini tidak lain adalah seperangkat bahan ajar yang berbentuk cetak maupun online harus dapat bermanfaat dan digunakan oleh siswa secara individual. Setiap siswa tentunya memiliki kebutuhan akan buku pelajaran sebagai penunjang atau media yang dapat memudahkan pelaksanaan pembelajaran itu berlangsung. Memiliki bahan ajar mandiri dapat meningkatkan kesadaran seseorang untuk mau mencoba menyelesaikan tugasnya secara mandiri tanpa melihat hasil kerja orang lain. Bahan ajar akan memudahkan siswa yang seringkali mengalami kesulitan ketika hendak menyelesaikan tugas, bahan ajar juga dapat membantu siswa menghadapi ujian.
2. Self contained, merupakan suatu bentuk informasi cetak dan tertulis yang sengaja disajikan untuk dipelajari oleh siswa yang berisikan semua materi atau teori pelajaran, dan dikelompokkan dalam satu halaman atau satu unit kompetensi dan juga disertai dengan sub kompetensi. Siswa dapat mempelajari semua ilmu pengetahuan yang perlu dipelajari setelah itu siswa dapat mencoba untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan di setiap babnya dengan tujuan untuk mempertajam pengetahuan serta penguasaan ilmu yang telah dipelajarinya dari bahaj ajar tersebut.
3. Stand alone, dikatakan bahan ajar jikalau dia bisa bertahan sendiri, yakni tidak membutuhkan bantuan dari bahan ajar lainnya. Bahan ajar yang baik sudah mencakup segala materi pelajaran sehingga tidak membutuhkan bahan ajar lain untuk melengkapinya.
4. Adaptive, bahan ajar yang baik tidak hanya bisa bertahan sendiri, namun juga bisa mengikuti perkembangan teknologi. Anda dapat mencari bahan ajar yang baik, bukan hanya berisi akan sumber ilmu saja, melainkan juga diciptakan dengan cara yang lebih tinggi kualitasnya.
5. User friendly, bahan ajar yang sempurana seharusnya dapat memudahkan penggunanya ketika hendak memakainya.
14. Mengidentifikasi permasalahan pembelajaran yang dapat diselesaikan dengan PTK
Bidang kajian yang dapat dikembangkan sebagai masalah dalam PTK adalah sebagai berikut :
a. Masalah belajar siswa di sekolah, seperti : masalah belajar di kelas, kesalahan pembelajaran, miskonsepsi dan peningkatan hasil belajar siswa.
b. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, seperti : masalah pengelolaan dan interaksi di dalam kelas, partisipasi orang tua dalam proses belajar-mengajar siswa.
c. Alat bantu , media dan sumber belajar, seperti : masalah penggunaan media, perpustakaan dan sumber belajar didalam dan diluar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat.
d. Sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran seperti pengembangan instrumen dalam penilaian kelas.
e. Pengembangan pribadi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan seperti : keefektifan hubungan antara pendidik, peserta didik dan orang tua dalam dalam proses belajar-mengajar serta peningkatan konsep diri peserta didik.
f. Masalah kurikulum, seperti,seperti implementasi kurikulum urutan penyajian materi pokok, interaksi guru siswa, siswa materi ajar, dan siswa-lingkungan belajar.
15. Memberi contoh tahapan siklus PTK
Siklus PTK dilaksanakan dengan 4 kegiatan utama atau tahapan yaitu Plan (perencanaan). Action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi).
a. Perencanaan (Plan)
Pada tahap perencanaan ini peneliti menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), menyusun tes hasil belajar Ulangan Harian (UH), Pekerjaan Rumah (PR), dan membuat lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan (Action)
Pelaksanaan tindakan dilakukan pada proses pembelajaran secara terstruktur sesuai dengan Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan menerapkan pembelajaran Quantum Teaching.
c. Pengamatan (Observation)
Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas, interaksi dan kemajuan belajar siswa selama pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Pengamatan bertujuan untuk mengamati apakah ada hal-hal yang harus segera diperbaiki agar tindakan yang dilakukan mencapai tujuan yang diinginkan.
d. Refleksi (reflection)
Kegiatan refleksi yaitu mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan, kelemahan, dan kekurangan dari proses pembelajaran yang dilakukan diperbaiki dengan rencana selanjutnya.
16. Menentukan judul penelitian yang sesuai untuk PTK
Judul PTK harus memuat unsur-unsur sebagai berikut: (1) ada masalah yang akan diteliti (variable Y); (2) ada tindakan untuk mengatasi masalah (variabel X); (3) ada subjek (siswa kelas ….); dan (4) lokasi yang spesifik (tempat & waktu penelitian). Sedangkan pola judul dalam PTK adalah:
(1) Penerapan X untuk Meningkatkan Y pada Mata Pelajaran … Kelas … Sekolah ….; (2) Upaya Meningkatkan Y Melalui X pada Mata Pelajaran …. Kelas … Sekolah …;
(3) Optimalisasi X untuk Meningkatkan Y pada Mata Pelajaran ….. Kelas …. Sekolah …; (4) Peningkatan Y Melalui X pada Mata Pelajaran … Kelas … Sekolah; Dan
(5) Peningkatan Y dengan Menerapkan X pada Mata Pelajaran …. Kelas …. Sekolah ….
17. Menemukan perbedaan PTK dengan penelitian formal lainnya
PTK
a. Dilakukan oleh kepala sekolah, guru atau calon guru.
b. Dilakukan di kelas atau di sekolah
c. Kerepresentatifan sampel tidak menjadi syarat penting
d. Lebih mengutamakan validitas internal
e. Tidak menuntut penggunaan analisis statistik yang rumit. Menggunakan metode kualitatif untuk mendeskripsikan apa yang terjadi dan memahami dampak suatu intervensi pendidikan (tindakan)
f. Tidak selalu menggunakan hipotesis
g. Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung
h. Hasil peelitian merupakan peningkatan mutu pembelajaran di lingkungan pembelajaran tertentu tempat dilakukannya PTK
i. Berlangsung secara siklus(berdaur)
j. Kolaboratif dan kooperatif.
PENELITIAN FORMAL
a. Dilakukan oleh orang luar kelas, misalnya dosen ilmuwan, mahasiswa yang melakukan eksperimen tertentu.
b. Di lingkungan dimana variabel-variabel luar dapat dikendalikan.
c. Sampel harus representatif
d. Mengutamakan validitas internal dan eksternal.
e. Menuntut adanya penggunaan analisis statistik yang rumit, signifikansi statistik yang dtentukan sejak awal, dan memeriksa hubungan sebab akibat antar variabel.
e. Mempersyaratkan hipotesis.
f. Mengembangkan teori dan tidak memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung.
g. Hasil penelitian merupakan produk ilmu yang dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas.
h. Berlangsung secara linear ( bergerak maju)
i. Tidak kolaboratif dan individual.
18. Menjelaskan kegiatan inti
Kegiatan ini merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik












0 komentar:
Post a Comment