Alhamdulillah akhirnya bisa terselesaikan juga pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata pelajaran ekonomi SMA untuk kelas 12 dengan kurikulum 2013 yang sudah direvisi tahun 2016. Untuk membandikannya bisa dilihat d i s i n i
Translate
Showing posts with label Teknik Mengajar. Show all posts
Showing posts with label Teknik Mengajar. Show all posts
kegiatan pembelajaran,
kurikulum,
Kurtilas,
Materi Pelajaran Ekonomi,
metoda pembelajaran,
Silabus - RPP,
Teknik Mengajar
RPP Ekonomi SMA Kelas XI Kurikulum 2013 Revisi 2016 terbaru
Alhamdulillah akhirnya selesai juga Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata pelajaran ekonomi SMA Kelas 11. kurikulum 2013 edisi revisi 2016, untuk melihatnya bisa diperiksaDISINI
EKONOMI X,
kegiatan pembelajaran,
kurikulum,
kurikulum 2013,
Materi Pelajaran Ekonomi,
metoda pembelajaran,
Silabus - RPP,
Teknik Mengajar
RPP Matpel Ekonomi kelas 10 edisi Revisi 2016 terbaru
Alhamdulillah akhirnya selesai juga Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata pelajaran ekonomi SMA Kelas 10. kurikulum 2013 edisi revisi 2016, untuk melihatnya bisa diperiksa disini
Model Pembelajaran Learning Circle (LC)
Slavin (2005:187) mengatakan bahwa
pada dasarnya para siswa memasuki kelas dengan pengetahuan, ketrampilan
dan motivasi yang berbeda-beda dari rumah. Ketika guru memberikan suatu
materi pelajaran dalam kelas, siswa dalam menerima pelajaran tersebut
ada yang cepat dan ada yang lambat. Untuk mengatasi masalah perbedaan
kecepatan siswa dalam menerima materi dalam kelas dapat digunakan model
pembelajaran Leaning Cycle.
LC
(Learning Cycle) ,yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada
pebelajar (student centered). LC (Learning Cycle) patut dikedepankan,
karena sesuai dengan teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori
belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar
merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi, dan
fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat
tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi
adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi.
Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup
adaptasi dan organisasi (Arifin, 1995).
Ciri
khas model pembelajaran LC(Learning Cycle) ini adalah setiap siswa
secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan
guru yang kemudian hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok
untuk didiskusikan oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok
bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab
bersama. Kelebihan model pembelajaran LC (Learning Cycle) meningkatkan
motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses
pembelajaran., dapat memberikan kondisi belajar yang menyenangkan,
meningkatkan ketrampilan sosial dan aktivitas siswa, membantu siswa
dalam memahami dan menguasai konsep-konsep fisika yang telah dipelajari
melalui kegiatan atau belajar secara berkelompok, sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Sehingga, Model pembelajaran LC
(Learning Cycle) ini cocok diterapkan dalam pembelajaran fisika karena
dapat mengatasi kesulitan belajar siswa secara individu untuk memahami
konsep karena lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah.
Menurut Piaget (1989) model pembelajaran LC (Learning Cycle (5 E)) pada dasarnya memiliki lima fase yaitu:
1. Engagement (Undangan)
Bertujuan
mempersiapkan diri pebelajar agar terkondisi dalam menempuh fase
berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide
mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada
pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan
keingintahuan (curiosity) pebelajar tentang topik yang akan diajarkan
berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula pebelajar diajak membuat
prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan
dalam tahap eksplorasi.
2. Exploration (Eksplorasi)
Siswa
diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil
tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan
dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti
praktikum dan telaah literatur.
3. Explanation (Penjelasan)
Guru
mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri,
meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan
kegiatan diskusi. Pada tahap ini pebelajar menemukan istilah-istilah
dari konsep yang dipelajari.
4. Elaboration (Pengembangan)
Siswa
mengembangkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru melalui
kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving.
5. Evaluation (Evaluasi)
Pengajar
menilai apakah pembelajaran sudah berlangsung baik dengan jalan
memberikan tes untuk mengukur kemampuan siswa setelah menerima materi
pelajaran.
Gambar 1. Langkah-langkah Daur Belajar (Sumber: Johnston, 2001)
Berdasarkan
tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan
di atas, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi
dapat berperan aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka
terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Berdasarkan uraian di atas, LC
dapat dimplementasikan dalam pembelajaran bidang-bidang sain maupun
sosial.
LC (Learning Cycle)
,yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student
centered). LC (Learning Cycle) patut dikedepankan, karena sesuai dengan
teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori belajar yang berbasis
konstruktivisme. LC melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi pebelajar
untuk secara aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara
berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial.
Implementasi LC dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu:
1.
Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna
dengan bekerja dan berpikir.Pengetahuan di konstruksi dari pengalaman
siswa.
2. Informasi baru
dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang
dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu
3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah.(Hudojo,2001)
Dengan
demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan
dari guru ke siswa, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi
merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan
siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih
bermakna dan menjadikan skema dalam diri pebelajar menjadi pengetahuan
fungsional yang setiap saat dapat diorganisasi oleh pebelajar untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Hasil-hasil penelitian di
perguruan tinggi dan sekolah menengah tentang implementasi LC dalam
pembelajaran sain menunjukkan keberhasilan model ini dalam meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar siswa (Budiasih dan Widarti, 2004;
Fajaroh dan Dasna, 2004).
Model pembelajaran LC (Learning Cycle) ini memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. Sintakmatik
Langkah-langkah model pembelajaran LC (Learning Cycle) yakni pada table 2.1 sebagai berikut :
2. Sistem sosial
Sistem
sosial yang berlaku dan berlangsung dalam model Learning Cycle bersifat
demokratis. Setiap siswa diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat
berupa jawaban dan pertanyaan sehingga tercipta suasana belajar yang
aktif. Siswa juga dituntut bekerja sama dengan teman sehingga terjalin
interaksi antar siswa. Maka dari itulah didalam suatu kelompok siswa
dituntut untuk membuat hubungan yang baik antar anggota kelompok
sehingga sikap untuk menghargai sesama dan saling membantu sangatlah
diperlukan.
3. Prinsip reaksi
Guru
berperan sebagai penasehat, konsultan, dan pemberi kritik terhadap
kinerja siswa. Guru berupaya menciptakan kegiatan pembelajaran yang
dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar secara aktif dan juga
guru berupaya menciptakan kegiatan pembelajaran yaang menuntut terjadi
interaksi antara siswa dengan siswa yang lain maupun antara siswa dengan
guru.
Didalam penerapan model
pembelajaran ini, guru melakukan pengendalian terhadap aktivitas
pebelajar pada setiap kelompok, antara lain dengan memberikan penjelasan
materi atau bacaan yang terkait dengan tugas-tugas kelompok.
4. Sistem pendukung
Sistem
pendukung pembelajaran adalah segala sarana yang dapat digunakan untuk
melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sarana pendukung yang diperlukan
untuk melaksanakan model pembelajaran ini adalah, buku paket fisika SMP
kelas VII sebagai referensi siswa untuk mengaitkan informasi dalam
lembar tugas dengan konsep fisika, LKS, papan tulis, alat tulis dan
kartu permainan (cards game)
5. Dampak instruksional
Dampak
instruksional dari model pembelajaran ini antara lain: pemahaman
terhadap konsep, kemampuan menerapkan konsep fisika dalam memecahkan
masalah, kemampuan merespon, bertanya menjawab pertanyaan, memperhatikan
penjelasan guru dan menilai fenomena fisika yang terjadi, serta
kemampuan bersosialisasi.
6. Dampak pengiring
Dampak
pengiring dari model pembelajaran ini antara lain : kemampuan bersikap
jujur, kemampuan menghargai pendapat orang lain, kemampuan memandang
masalah dari berbagai perspektif, kemampuan berpikir divergen atau
berpikir kreatif, memiliki rasa percaya diri, memiliki motivasi belajar,
memiliki keterampilan hidup bergotong royong, diskusi dengan kelompok,
dan bekerja sama dengan teman satu kelompok.
Model LC (Learning Cycle) ini mempunyai kelebihan sebagai berikut:
1. Meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.
2. Siswa dapat menerima pengalaman dan dimengerti orang lain;
3.
Siswa mampu mengembangkan potensi individu yang berhasil dan berguna,
kreatif, bertanggung jawab, mengaktualisasikan dan mengoptimalkan
dirinya terhadap perubahan yang terjadi
4. Pembelajaran menjadi lebih bermakna
Sumber Tulisan : http://learningmodels.blogspot.com/2011/04/2.html
Teknik Mengajar
Pembelajaran Quantum
Model Pembelajaran Quantum Teaching
Pembelajaran quantum teaching adalah salah satu metodologi pembelajaran yang dipandang baru meskipun sebenarnya sudah ada sebelumnya. Dibandingkan dengan falsafah dan metodologi pembelajaran lainnya, seperti: Pembelajaran kooperatif, pembelajaran terpadu, pembelajaran aktif, pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning, CTL), pembelajaran berbasis projek (project based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran interaksi dinamis. Falsafah dan metodologi pembelajaran kuantum yang disebut terakhir tampak relatif lebih populer.
Pembelajaran quantum teaching adalah mengubah belajar menjadi meriah dengan segala nuansanya. Dalam quantum teaching juga menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar.Pembelajaran quantum teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas. Interaksi yang menjadikan landasan dan kerangka untuk belajar (De porter. B, 2004).
Dalam pembelajaran quantum teaching interaksi yang ada mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Unsur tersebut terbagi menjadi dua kategori yaitu: konteks dan isi. Konteks adalah latar belakang pengalaman guru. Sedangkan isi adalah bagaimana guru menyajikan materi. Interaksi dari konteks dan isi dapat mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa. Jika dikaitkan dengan situasi belajar-mengajar di sekolah, unsur-unsur yang sama tersusun dengan baik yaitu suasana, lingkungan, landasan, rancangan, penyajian, dan fasilitas.
Empat ciri dari kerangka konseptual tentang langkah-langkah pengajaran dalam model pembelajaran quantum teaching yaitu:
(1) adanya kesempatan yang luas kepada seluruh para siswa untuk terlibat aktif dan partisipasi dalam pengajaran;
(2) adanya kepuasan pada diri si anak dengan pengakuan terhadap temuan dan kemampuan yang ditunjukkan;
(3) adanya unsur pemantapan dalam menguasai materi atau suatu keterampilan yang diajarkan; dapat dilihat dari adanya pengulangan terhadap sesuatu yang sudah dikuasainya.
(4) adanya unsur kemampuan pada seorang guru dalam merumuskan temuan yang dihasilkan siswa, dalam bentuk konsep, teori, model dan sebagainya, (De porter. B, 2004).
Sejarah Munculnya Model Pembelajaran Quantum Teaching
Model pembelajaran quantum teaching muncul di Super Comp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan Learning Forum, sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi (De Porter, 1992). Selama dua belas hari (menginap), siswa-siswa mulai usia 9 tahun sampai 24 tahun memperoleh kiat-kiat yang membantu mereka dalam mencatat, menghafal, membaca cepat, menulis, berkreatifitas, berkomunikasi dan membina hubungan serta kiat-kiat yang meningkatkan kemampuan mereka menguasai hal-hal dalam kehidupan. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti Super Comp mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi, dan lebih bangga akan diri mereka sendiri (Vos Groenendal)
Quantum teaching dalam pembelajaran merupakan interaksi yang terjadi di dalam kelas antara siswa dengan lingkungan belajar yang efektif. Dalam quantum teaching bersandar pada konsep ‘bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa pengajaran dengan quantum teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa. Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
Asas Utama Model Pembelajaran Quantum Teaching
Asas utama quantum teaching adalah “bawalah dunia mereka kedunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Dari asas utama ini, dapat disimpulkan bahwa langkah awal yang harus dilakukan dalam pengajaran yaitu mencoba memasuki dunia yang dialami oleh siswa. Cara yang dilakukan seorang pendidik meliputi: untuk apa mengajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, maka dapat membawa mereka kedalam dunia kita dan memberi mereka pemahaman mengenai isi dunia itu. “Dunia kita” dipeluas mencakup tidak hanya para siswa, tetapi juga guru. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan lebih mendalam, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru. (De porter. B, 2004)
Prinsip-prinsip Pembelajaran Quantun Teaching
Quantun Teaching memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap;
a.) Segalanya berbicara
b.) Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, kertas yang guru bagikan hingga rancangan pelajaran, semua mengirim pesan tentang pelajaran.
c.) Segalanya bertujuan
d.) Pengalaman sebelum pemberian nama
e.) Proses belajar paling efektif terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
f.) Akui setiap usaha
g.) Setiap mengambil langkah, siswa patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
h.) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Sintaks Pembelajaran Quantum Teaching
Quantum teaching mempunyai dua bagian penting yaitu dalam konteks dan isi. Sintaks pembelajaran quantum teaching adalah Tumbuhkan, Alami, Namai, Demostrasikan, Ulangi dan Rayakan (TANDUR). Adapun maksudnya adalah sebagai berikut:
Pembelajaran quantum teaching adalah penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Asas utama Quantum Teaching bersandar pada konsep; Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Artinya bahwa pentingnya seorang guru untuk masuk ke dunia siswa sebagai langkah pertama dalam proses pembelajaran.
Sumber:
http://sarkomkar.blogspot.com/2009/02/model-pembelajaran-quantum-teaching.html
http://www.sarjanaku.com/2011/04/pembelajaran-quantum-teaching-serta.html
Pembelajaran quantum teaching adalah salah satu metodologi pembelajaran yang dipandang baru meskipun sebenarnya sudah ada sebelumnya. Dibandingkan dengan falsafah dan metodologi pembelajaran lainnya, seperti: Pembelajaran kooperatif, pembelajaran terpadu, pembelajaran aktif, pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning, CTL), pembelajaran berbasis projek (project based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran interaksi dinamis. Falsafah dan metodologi pembelajaran kuantum yang disebut terakhir tampak relatif lebih populer.
Pembelajaran quantum teaching adalah mengubah belajar menjadi meriah dengan segala nuansanya. Dalam quantum teaching juga menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar.Pembelajaran quantum teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas. Interaksi yang menjadikan landasan dan kerangka untuk belajar (De porter. B, 2004).
Dalam pembelajaran quantum teaching interaksi yang ada mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Unsur tersebut terbagi menjadi dua kategori yaitu: konteks dan isi. Konteks adalah latar belakang pengalaman guru. Sedangkan isi adalah bagaimana guru menyajikan materi. Interaksi dari konteks dan isi dapat mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa. Jika dikaitkan dengan situasi belajar-mengajar di sekolah, unsur-unsur yang sama tersusun dengan baik yaitu suasana, lingkungan, landasan, rancangan, penyajian, dan fasilitas.
Empat ciri dari kerangka konseptual tentang langkah-langkah pengajaran dalam model pembelajaran quantum teaching yaitu:
(1) adanya kesempatan yang luas kepada seluruh para siswa untuk terlibat aktif dan partisipasi dalam pengajaran;
(2) adanya kepuasan pada diri si anak dengan pengakuan terhadap temuan dan kemampuan yang ditunjukkan;
(3) adanya unsur pemantapan dalam menguasai materi atau suatu keterampilan yang diajarkan; dapat dilihat dari adanya pengulangan terhadap sesuatu yang sudah dikuasainya.
(4) adanya unsur kemampuan pada seorang guru dalam merumuskan temuan yang dihasilkan siswa, dalam bentuk konsep, teori, model dan sebagainya, (De porter. B, 2004).
Sejarah Munculnya Model Pembelajaran Quantum Teaching
Model pembelajaran quantum teaching muncul di Super Comp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan Learning Forum, sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi (De Porter, 1992). Selama dua belas hari (menginap), siswa-siswa mulai usia 9 tahun sampai 24 tahun memperoleh kiat-kiat yang membantu mereka dalam mencatat, menghafal, membaca cepat, menulis, berkreatifitas, berkomunikasi dan membina hubungan serta kiat-kiat yang meningkatkan kemampuan mereka menguasai hal-hal dalam kehidupan. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti Super Comp mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi, dan lebih bangga akan diri mereka sendiri (Vos Groenendal)
Quantum teaching dalam pembelajaran merupakan interaksi yang terjadi di dalam kelas antara siswa dengan lingkungan belajar yang efektif. Dalam quantum teaching bersandar pada konsep ‘bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa pengajaran dengan quantum teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa. Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
Asas Utama Model Pembelajaran Quantum Teaching
Asas utama quantum teaching adalah “bawalah dunia mereka kedunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Dari asas utama ini, dapat disimpulkan bahwa langkah awal yang harus dilakukan dalam pengajaran yaitu mencoba memasuki dunia yang dialami oleh siswa. Cara yang dilakukan seorang pendidik meliputi: untuk apa mengajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, maka dapat membawa mereka kedalam dunia kita dan memberi mereka pemahaman mengenai isi dunia itu. “Dunia kita” dipeluas mencakup tidak hanya para siswa, tetapi juga guru. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan lebih mendalam, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru. (De porter. B, 2004)
Prinsip-prinsip Pembelajaran Quantun Teaching
Quantun Teaching memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap;
a.) Segalanya berbicara
b.) Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, kertas yang guru bagikan hingga rancangan pelajaran, semua mengirim pesan tentang pelajaran.
c.) Segalanya bertujuan
d.) Pengalaman sebelum pemberian nama
e.) Proses belajar paling efektif terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
f.) Akui setiap usaha
g.) Setiap mengambil langkah, siswa patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
h.) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Sintaks Pembelajaran Quantum Teaching
Quantum teaching mempunyai dua bagian penting yaitu dalam konteks dan isi. Sintaks pembelajaran quantum teaching adalah Tumbuhkan, Alami, Namai, Demostrasikan, Ulangi dan Rayakan (TANDUR). Adapun maksudnya adalah sebagai berikut:
- Menumbuhkan minat dengan memuaskan “apakah manfaatnya bagiku (pelajar)” dan memanfaatkan kehidupan pelajar;
- Menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh semua pelajar;
- Menamai kegiatan yang akan dilakukan selama proses belajar mengajar dengan menyediakan kata kunci, konser, model, rumus, strategi, sebuah “masukan”;
- Menyediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan (mendemonstrasikan) bahwa mereka tahu;
- Menunjuk beberapa pelajar untuk mengulangi materi dan menegaskan “aku tahu bahwa aku memang tahu ini”;
- Merayakan atas keberhasilan yang sudah dilakukan oleh pelajar sebagai pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan (De porter B, 2003).
Pembelajaran quantum teaching adalah penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Asas utama Quantum Teaching bersandar pada konsep; Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Artinya bahwa pentingnya seorang guru untuk masuk ke dunia siswa sebagai langkah pertama dalam proses pembelajaran.
Sumber:
http://sarkomkar.blogspot.com/2009/02/model-pembelajaran-quantum-teaching.html
http://www.sarjanaku.com/2011/04/pembelajaran-quantum-teaching-serta.html
Teknik Mengajar
Autentik Asesment
Kurikulum akan selalu berubah sesuai dengan
jaman yang selalu berubah demikian pula dalam cara menilai siswa. Permen 20 tahun
2007 mengisyaratkan bahwa tekhnik penilaian harus berdasarkan autentik asesmen.
.
A.Pengertian Asesmen
Asesmen adalah proses pengumpulan informasi tentang peserta didik, berkenaan dengan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka dapat lakukan (Hart, 1994). Dalam hal ini banyak cara yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi tersebut, misalnya dengan mengamati peserta didik belajar, menguji apa yang mereka hasilkan, menguji pengetahuan dan keterampilan mereka. Hal yang terpenting tentang asesmen adalah bagaimana kita dapaat menemukan apa yang sedang dipelajari peserta didik, dalam hal ini adalah suatu instrumen pengukuran untuk mengases dan mendokumentasikan pembelajaran siswa.
B. Pengertian Asesmen Autentik
Berikut ini adalah beberapa macam pengertian asesmen autentik dari berbagai sumber:
1. Asesmen autentik adalah soal-soal tes atau latihan yang sangat mendekati hasil pendidikan sains yang diinginkan. Latiha-latihan informasi dan penalaran ilmiah pada situasi semacam yang akan mereka hadapi di luar kelas, sebagaimana halnya kerja para ilmuwan (The National Science Education Standart, 1995, dalam Voss, tanpa tahun)
2. Suatu asesmen yang melibatkan siswa di dalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting, dan bermakna (Hart, 1994). Asesmen itu terlihat sebagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan keterampilan berpikir tinggi serta koordinasi tentang pengetahuan yang luas.
3. Asesmen autentik menantang peserta didik untuk menerapkan informasi maupun keterampilan akademik baru pada suatu situasi riil untuk suatu maksud yang jelas. Asesmen autentik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya sembari memperlihatkan apa yang telah dipelajarinya (Johnson, 2002).
4. Asesmen autentik adalah suatu cara pengukuran penguasaan peserta didik terhadap suatu mata pelajaran dengan cara yang lain dibanding regugitasi sederhana dari pengetahuan. Asesmen autentik harus mengukur proses pemahaman dan bukan sederhana potongan-potongan informasi yang dihafal (http://www.cast.org/neac/AnchoredInstruction1663.cfm).
5. Suatu asesemen dikatakan autentik, jika asesmen itu memeriksa/menguji secara langsung perbuatan atau prestasi peserta didik berkaitan dengan tugas intelektual yang layak (Grant, 1990). Dalam hal ini asesemen autentik menutut peserta didik untuk menjadi orang yang efektif yang memiliki pengetahuan yang dibutuhkan. Asesmen menjadi autentik bilamana pembelajaran yang diukur oleh asesmen itu memiliki nilai di luar kelas serta bermakna bagi peserta didik (Kerka, 1995). Asesmen autentik mengamanatkan keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang sesungguhnya.
C. Bentuk Penerapan Autentik
Bentuk-bentuk penerapan asesmen autentik yaitu sebagai berikut:
1. Pada umunya para pendidik mengenal empat macam asesmen autentik, yaitu portofolio, perbuatan atau kinerja (performance), proyek, dan respon tertulis secara luas (Johnson, 2002).
2. Asesmen autentik dapat mencakup aktivitas yang beragam seperti wawancara lisan, tugas problem solving kelompok, pembuatan portofolio (Hart, 1994). Dalam cara lain dinyatakan pula bahwa cara-cara asesmen dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu observasi, contoh-contoh perbuatan, serta tes dan prosedur serupa tes atau pengukuran prestasi peserta didik pada suatu waktu maupun tempat tertentu.
3. Peserta didik untuk mengilustrasikan informasi akademik yang telah dipelajarinya, misalnya dalam bidang sains, pendidikan, kesehatan, matematika, dan bhasa inggris, dengan merancang sebuah presentasi tentang emosi orang (Johnson, 2002).
4. Asesmen autentik memberikan kesatuan utuh tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang dijumpai dalam aktivitas pembelajaran yang paling baik, seperti melakukan penelitian, menulis, merevisi, dan mendiskusikan masalah. Asesmen autentik juga mengikuti apakah peserta didik dapat terampil memberikan jawaban perbuatan atau produk yang seksama dan yang dapat dipertanggungjawabkan. Asesmen autentik menjadi valid dan reliabel dengan cara menekankan dan membakukan kriteria produk yang sesuai (Grant, 1990).
5. Atas dasar Custer (1994), Lazar dan Bean (1991), Rerf (1995), serta Rudner dan Boston (1994) menyatakan bahwa beberapa alat yang digunakan pada asesmen autentik adalah:
a. Ceklist, yaitu tentang tujuan pebelajar, kemajuan menulis/membaca, kelancaran menulis dan membaca, kontak pembelajaran, dan sebagainya.
b. Simulasi.
c. Essay dan contoh penulisan lain.
d. Demonstrasi atau perbuatan.
e. Wawancara masuk dan kemajuan.
f. Presentasi lisan.
g. Evaluasi oleh instruktur sejawat yang lainnya baik informal maupun formal.
h. Asesmen sendiri.
i. Pertanyaan-pertanyaan untuk respon yang tergagas.
Dalam hubungan ini peserta didik dapat diminta mengevaluasi studi kasus, menulis definisi serta mempertahankannya secara lisan, bermain peran serta membaca dan merekam bacaannya pada tape recorder, para peserta didik juga dapat mengumpulkan berkas tulisan yang berisi draf serta revisi yang memperlihatkan perubahan ejaan maupun hal-hal yang bersifat mekanis, strategis, serta perkembangannya menjadi penulis. Dalam hal ini teknik yang paling banyak disgunakan adalah asesmen portofolio (Kerka, 1995).
Berkaitan dengan asesmen kinerja yang tergolong asesmen autentik, Frazee dan Ridnitski (1995) mengemukakan beberapa cara implementasi asesmen tersebut, yaitu:
a. Menulis sampel.
b. Berbicara.
c. Essay, yaitu dapat memperlihatkan kemampuan analisis, sintesis, serta meringkas informasi.
d. Proyek penelitian.
e. Pameran.
f. Portofolio.
D. Prosedur Untuk Merancang Suatu Tugas Asesemen Autentik
Dalam menciptakan suatu tugas asesmen autentik, menurut Johnson (2002), guru CTL (Contextual Teaching Learning) menemukan prosedur berikut ini:
a. Mendeskripsikan secara tepat apa yang harus diketahui siswa dan apa yang dapat mereka demonstrasikan. Memberitahu kepada mereka standar yang harus mereka kuasai.
b. Berusaha mengkaitkan akademis secara bermakna dengan konteks dunia sehari-hari atau mengajak untuk mensimulasi konteks dunia nyata yang mengandung makna.
c. Meminta siswa untuk menunjukkan apa yang mereka dapat lakukan dengan apa yang mereka dapat ketahui. Untuk menunjukkan pengetahuan dan keterampilan yang mendalam yaitu dengan memproduksi suatu hasil, misalnya suatu produk yang nyata, presentasi, koleksi karya, dan sebagainya.
d. Menentukkan tingkat kecakapan/keahlian yang harus dikuasai.
e. Mengekspresikan tingkat kecakapan/keahlian dalam bentuk rubrik, yaitu suatu pedoman penilaian yang memberikan kriteria untuk menilai tugas (Lewin & Shoemaker, 1998).
f. Mengenalkan siswa dengan rubrik tersebut. Mengajak siswa untuk terus menerus melakukan evaluasi diri sementara mereka menilai kualitas pekerjaan mereka sendiri dalam asesmen ini.
g. Melibatkan orang lain selain guru untuk merespon asesmen itu (Lewin & Shoemaker, 1998).
E. Penyekoran Asesmen Autentik
Menurut Hart (1994), penyekoran pada asesmen autentik yaitu sebagai berikut:
a. Menekankan penyekoran berdasarkan suatu standar yang digunakan bersama.
b. Mengunakap dan mengidentifikasi kekuatan siswa, bukan menunjukkan kelemahan mereka.
c. Disekor berdasarkan standar kinerja yang jelas, bukan dengan normal atau acuan norma.
d. Mengases proses dan komptensi secara rutin.
e. Menggalakkan siswa untuk melakukan kebiasaan menilai diri sendiri.
Alat yang dipakai untuk membantu guru melakukan penyekoran adalah rubrik penyekoran. Rubrik penyekoran adalah suatu set kriteria yang digunakan untuk menyekor atau menempatkan posisi siswa pada tes, portofolio, atau kinerja. Rubrik penyekoran mendeskripsikan tingkat kinerja yang diharapkan dicapai siswa secara relatif. Jadi deskriptor atau deskripsi kinerja-kinerja siswa dan bagaimana menempatkan kinerja tersebut dalam suatu rentangan nilai yang telah ditetapkan sebelumnya.
F. Perbedaan Asesmen Autentik dan Asesmen Tradisional
Berikut ini adalah perbandingan antara asesmen autentik dan asesmen tradisional:
Asesmen Autentik:
Waktu ditentukan oleh guru dan siswa
Mengukur kecakapan tingkat tinggi
Menerapkan strategi-strategi kritis dan kreatif
Memiliki perspektif menyeluruh
Mengungkap konsep
Menggunakan standar individu
Bertumpu pada internalisasi
Solusi yang benar banyak
Mengungkap proses
Mengajar demi kebutuhan Periode waktu khusus
Mengukur kecakapan tingkat rendah
Menerapkan diri dan latihan
Asesmen Tradisional:
Memiliki perspektif sempit
Mengungkap fakta
Menggunakan standar kelompok
Bertumpu pada ingatan
Hanya satu solusi yang benar
Mengungkap kecakapan
Mengajar untuk ujian
G. Perbedaan Asesmen Autentik dan Asesmen Alternatif
Asesmen alternatif adalah asesmen yang lain dari lazimnya. Bentuk-bentuk asesmen alternatif antara lain asesmen kinerja (performance), observasi dan kegiatan bertanya, presentasi dan diskusi, proyek dan investigasi, portofolio dan jurnal, wawancara dan konferensi, dan asesmen diri sendiri (Glencoe/McGrow-Hill, tanpa tahun).
Contoh asesmen alternatif antara lain mencakup pertanyaan terbuka, pameran, demonstrasi, eksperimen, hands-on, penciptaan produk baru, kinerja, simulasi komputer dan portofolio (Frazee & Rudnitski, 1995). Dalam hal ini dijelaskan bahwa asesmen alternatif mendorong siswa menguasai bukan hanya kecakapan-kecakapan dasar.
Suatu asesmen alternatif tergolong asesmen autentik atau tidak, ditentukan oleh manajemen pelaksanaan asesmen alternatif tersebut. Sebagai contoh portofolio seorang peserta didik yang hanya sekedar hasil editing dari portofolio temannya, tentu saja sama sekali tidak merupakan bagian dari asesmen autentik. Demikian pula kegiatan bertanya seorang peserta didik yang hanya sekedar memaerkan bahwa saya rajin bertanya, dan sebagainya.
Sumber tulisan; http://mba-uus.blogspot.com/2009/10/asesmen-autentik.html
A.Pengertian Asesmen
Asesmen adalah proses pengumpulan informasi tentang peserta didik, berkenaan dengan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka dapat lakukan (Hart, 1994). Dalam hal ini banyak cara yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi tersebut, misalnya dengan mengamati peserta didik belajar, menguji apa yang mereka hasilkan, menguji pengetahuan dan keterampilan mereka. Hal yang terpenting tentang asesmen adalah bagaimana kita dapaat menemukan apa yang sedang dipelajari peserta didik, dalam hal ini adalah suatu instrumen pengukuran untuk mengases dan mendokumentasikan pembelajaran siswa.
B. Pengertian Asesmen Autentik
Berikut ini adalah beberapa macam pengertian asesmen autentik dari berbagai sumber:
1. Asesmen autentik adalah soal-soal tes atau latihan yang sangat mendekati hasil pendidikan sains yang diinginkan. Latiha-latihan informasi dan penalaran ilmiah pada situasi semacam yang akan mereka hadapi di luar kelas, sebagaimana halnya kerja para ilmuwan (The National Science Education Standart, 1995, dalam Voss, tanpa tahun)
2. Suatu asesmen yang melibatkan siswa di dalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting, dan bermakna (Hart, 1994). Asesmen itu terlihat sebagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan keterampilan berpikir tinggi serta koordinasi tentang pengetahuan yang luas.
3. Asesmen autentik menantang peserta didik untuk menerapkan informasi maupun keterampilan akademik baru pada suatu situasi riil untuk suatu maksud yang jelas. Asesmen autentik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya sembari memperlihatkan apa yang telah dipelajarinya (Johnson, 2002).
4. Asesmen autentik adalah suatu cara pengukuran penguasaan peserta didik terhadap suatu mata pelajaran dengan cara yang lain dibanding regugitasi sederhana dari pengetahuan. Asesmen autentik harus mengukur proses pemahaman dan bukan sederhana potongan-potongan informasi yang dihafal (http://www.cast.org/neac/AnchoredInstruction1663.cfm).
5. Suatu asesemen dikatakan autentik, jika asesmen itu memeriksa/menguji secara langsung perbuatan atau prestasi peserta didik berkaitan dengan tugas intelektual yang layak (Grant, 1990). Dalam hal ini asesemen autentik menutut peserta didik untuk menjadi orang yang efektif yang memiliki pengetahuan yang dibutuhkan. Asesmen menjadi autentik bilamana pembelajaran yang diukur oleh asesmen itu memiliki nilai di luar kelas serta bermakna bagi peserta didik (Kerka, 1995). Asesmen autentik mengamanatkan keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang sesungguhnya.
C. Bentuk Penerapan Autentik
Bentuk-bentuk penerapan asesmen autentik yaitu sebagai berikut:
1. Pada umunya para pendidik mengenal empat macam asesmen autentik, yaitu portofolio, perbuatan atau kinerja (performance), proyek, dan respon tertulis secara luas (Johnson, 2002).
2. Asesmen autentik dapat mencakup aktivitas yang beragam seperti wawancara lisan, tugas problem solving kelompok, pembuatan portofolio (Hart, 1994). Dalam cara lain dinyatakan pula bahwa cara-cara asesmen dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu observasi, contoh-contoh perbuatan, serta tes dan prosedur serupa tes atau pengukuran prestasi peserta didik pada suatu waktu maupun tempat tertentu.
3. Peserta didik untuk mengilustrasikan informasi akademik yang telah dipelajarinya, misalnya dalam bidang sains, pendidikan, kesehatan, matematika, dan bhasa inggris, dengan merancang sebuah presentasi tentang emosi orang (Johnson, 2002).
4. Asesmen autentik memberikan kesatuan utuh tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang dijumpai dalam aktivitas pembelajaran yang paling baik, seperti melakukan penelitian, menulis, merevisi, dan mendiskusikan masalah. Asesmen autentik juga mengikuti apakah peserta didik dapat terampil memberikan jawaban perbuatan atau produk yang seksama dan yang dapat dipertanggungjawabkan. Asesmen autentik menjadi valid dan reliabel dengan cara menekankan dan membakukan kriteria produk yang sesuai (Grant, 1990).
5. Atas dasar Custer (1994), Lazar dan Bean (1991), Rerf (1995), serta Rudner dan Boston (1994) menyatakan bahwa beberapa alat yang digunakan pada asesmen autentik adalah:
a. Ceklist, yaitu tentang tujuan pebelajar, kemajuan menulis/membaca, kelancaran menulis dan membaca, kontak pembelajaran, dan sebagainya.
b. Simulasi.
c. Essay dan contoh penulisan lain.
d. Demonstrasi atau perbuatan.
e. Wawancara masuk dan kemajuan.
f. Presentasi lisan.
g. Evaluasi oleh instruktur sejawat yang lainnya baik informal maupun formal.
h. Asesmen sendiri.
i. Pertanyaan-pertanyaan untuk respon yang tergagas.
Dalam hubungan ini peserta didik dapat diminta mengevaluasi studi kasus, menulis definisi serta mempertahankannya secara lisan, bermain peran serta membaca dan merekam bacaannya pada tape recorder, para peserta didik juga dapat mengumpulkan berkas tulisan yang berisi draf serta revisi yang memperlihatkan perubahan ejaan maupun hal-hal yang bersifat mekanis, strategis, serta perkembangannya menjadi penulis. Dalam hal ini teknik yang paling banyak disgunakan adalah asesmen portofolio (Kerka, 1995).
Berkaitan dengan asesmen kinerja yang tergolong asesmen autentik, Frazee dan Ridnitski (1995) mengemukakan beberapa cara implementasi asesmen tersebut, yaitu:
a. Menulis sampel.
b. Berbicara.
c. Essay, yaitu dapat memperlihatkan kemampuan analisis, sintesis, serta meringkas informasi.
d. Proyek penelitian.
e. Pameran.
f. Portofolio.
D. Prosedur Untuk Merancang Suatu Tugas Asesemen Autentik
Dalam menciptakan suatu tugas asesmen autentik, menurut Johnson (2002), guru CTL (Contextual Teaching Learning) menemukan prosedur berikut ini:
a. Mendeskripsikan secara tepat apa yang harus diketahui siswa dan apa yang dapat mereka demonstrasikan. Memberitahu kepada mereka standar yang harus mereka kuasai.
b. Berusaha mengkaitkan akademis secara bermakna dengan konteks dunia sehari-hari atau mengajak untuk mensimulasi konteks dunia nyata yang mengandung makna.
c. Meminta siswa untuk menunjukkan apa yang mereka dapat lakukan dengan apa yang mereka dapat ketahui. Untuk menunjukkan pengetahuan dan keterampilan yang mendalam yaitu dengan memproduksi suatu hasil, misalnya suatu produk yang nyata, presentasi, koleksi karya, dan sebagainya.
d. Menentukkan tingkat kecakapan/keahlian yang harus dikuasai.
e. Mengekspresikan tingkat kecakapan/keahlian dalam bentuk rubrik, yaitu suatu pedoman penilaian yang memberikan kriteria untuk menilai tugas (Lewin & Shoemaker, 1998).
f. Mengenalkan siswa dengan rubrik tersebut. Mengajak siswa untuk terus menerus melakukan evaluasi diri sementara mereka menilai kualitas pekerjaan mereka sendiri dalam asesmen ini.
g. Melibatkan orang lain selain guru untuk merespon asesmen itu (Lewin & Shoemaker, 1998).
E. Penyekoran Asesmen Autentik
Menurut Hart (1994), penyekoran pada asesmen autentik yaitu sebagai berikut:
a. Menekankan penyekoran berdasarkan suatu standar yang digunakan bersama.
b. Mengunakap dan mengidentifikasi kekuatan siswa, bukan menunjukkan kelemahan mereka.
c. Disekor berdasarkan standar kinerja yang jelas, bukan dengan normal atau acuan norma.
d. Mengases proses dan komptensi secara rutin.
e. Menggalakkan siswa untuk melakukan kebiasaan menilai diri sendiri.
Alat yang dipakai untuk membantu guru melakukan penyekoran adalah rubrik penyekoran. Rubrik penyekoran adalah suatu set kriteria yang digunakan untuk menyekor atau menempatkan posisi siswa pada tes, portofolio, atau kinerja. Rubrik penyekoran mendeskripsikan tingkat kinerja yang diharapkan dicapai siswa secara relatif. Jadi deskriptor atau deskripsi kinerja-kinerja siswa dan bagaimana menempatkan kinerja tersebut dalam suatu rentangan nilai yang telah ditetapkan sebelumnya.
F. Perbedaan Asesmen Autentik dan Asesmen Tradisional
Berikut ini adalah perbandingan antara asesmen autentik dan asesmen tradisional:
Asesmen Autentik:
Waktu ditentukan oleh guru dan siswa
Mengukur kecakapan tingkat tinggi
Menerapkan strategi-strategi kritis dan kreatif
Memiliki perspektif menyeluruh
Mengungkap konsep
Menggunakan standar individu
Bertumpu pada internalisasi
Solusi yang benar banyak
Mengungkap proses
Mengajar demi kebutuhan Periode waktu khusus
Mengukur kecakapan tingkat rendah
Menerapkan diri dan latihan
Asesmen Tradisional:
Memiliki perspektif sempit
Mengungkap fakta
Menggunakan standar kelompok
Bertumpu pada ingatan
Hanya satu solusi yang benar
Mengungkap kecakapan
Mengajar untuk ujian
G. Perbedaan Asesmen Autentik dan Asesmen Alternatif
Asesmen alternatif adalah asesmen yang lain dari lazimnya. Bentuk-bentuk asesmen alternatif antara lain asesmen kinerja (performance), observasi dan kegiatan bertanya, presentasi dan diskusi, proyek dan investigasi, portofolio dan jurnal, wawancara dan konferensi, dan asesmen diri sendiri (Glencoe/McGrow-Hill, tanpa tahun).
Contoh asesmen alternatif antara lain mencakup pertanyaan terbuka, pameran, demonstrasi, eksperimen, hands-on, penciptaan produk baru, kinerja, simulasi komputer dan portofolio (Frazee & Rudnitski, 1995). Dalam hal ini dijelaskan bahwa asesmen alternatif mendorong siswa menguasai bukan hanya kecakapan-kecakapan dasar.
Suatu asesmen alternatif tergolong asesmen autentik atau tidak, ditentukan oleh manajemen pelaksanaan asesmen alternatif tersebut. Sebagai contoh portofolio seorang peserta didik yang hanya sekedar hasil editing dari portofolio temannya, tentu saja sama sekali tidak merupakan bagian dari asesmen autentik. Demikian pula kegiatan bertanya seorang peserta didik yang hanya sekedar memaerkan bahwa saya rajin bertanya, dan sebagainya.
Sumber tulisan; http://mba-uus.blogspot.com/2009/10/asesmen-autentik.html
Teknik Mengajar
Pendahuluan
Jaman telah berubah maka gaya Kepemimpinan seorang pemimpinpun harus berubah,Tjutju Yuniasrih dan suwarno (2009:165) menyatakan pada saat sekarang ini seorang pemimpin harus dapat memberi inspirasi kepada bawahannya agar tujuan dari organisasi dapat tercapai. Yang jadi pertanyaannya adalah gaya kepemimpinan yang bagaimanakah yang dapat merealisasikan hal tersebut. Jawabannya adalah Gaya kepemimpinan Delegatif. Mengapa?
Gaya Kepemimpinan Delegatif
Gaya Kepemimpinan adalah suatu ciri khas prilaku seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Dengan demikian maka gaya kepemimpinan seorang pemimpin sangat dipengaruhi oleh karakter pribadinya.
Kepemimpinan delegatif adalah sebuah gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pimpinan kepada bawahannya yang memiliki kemampuan, agar dapat menjalankan kegiatannya yang untuk sementara waktu tidak dapat dilakukan oleh pimpinan dengan berbagai sebab.
Gaya kepemimpinan delegatif sangat cocok dilakukan jika staf yang dimiliki memiliki kemampuan dan motivasi yang tinggi. dengan demikian pimpinan tidak terlalu banyak memberikan instruksi kepada bawahannya, bahkan pemimpin lebih banyak memberikan dukungan kepada bawahannya.
Motivasi Berprestasi
Motivasi merupakan jantungnya dari kegiatan suatu organisasi/lembaga, sebab serendah atau setinggi apa pun tujuan organisasi bila tidak ada motivasi maka tidaklah akan mungkin tercapai tujuan yang diharapkan. Bernard Berellson dan gary A. stainer dalam suryana menyatakan motivasi adalah keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang memberikan energy, mendorong kegiatan atau gerakan dan mengarahkan dan menyalurkan perilaku ke arah pencapaian kebutuhan yang memberikan kepuasan atau mengurangi ketidak seimbangan.
Motivasi berprestasi menurut McClelland dan atkinson adalah upaya untuk mencapai sukses dengan berkompetisi melalui suatu keunggulan. Standar keunggulan yang dimaksud adalah prestasi dirinya sendiri atau orang lain yang telah diraih sebelumnya.
Komponen Motivasi berprestasi
1. Menyukai aktivitas yang prestatif
2. Merasa marah apabila tidak mencapai hasil yang maksimal
3. Memiliki semangat kerja yang tinggi
4. Selalu memilih pekerjaan yang menantang
Kinerja
Kinerja merupakan hasil akhir dari segala kegiatan organisasi.Anwar Prabu Mangkunegara (200;67) mengemukakan pengertian kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja menurut Sedarmayanti adalah 1. sikap mental (Motivasi), 2. Pendidikan, 3. Ketrampilan, 4. manajemen Kepemimpinan, 5 Tingkat penghasilan, 6. gaji dan kesehatan, 7, 8, 9, 10, 11,
Kinerja guru adalah hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang diembannya berdasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu dengan output yang dihasilkan tercermin dengan baik.
Pengaruh Gaya Kepemimpinan Delegatif dan Motivasi berprestasi terhadap Kinerja Guru
Pendahuluan
Jaman telah berubah maka gaya Kepemimpinan seorang pemimpinpun harus berubah,Tjutju Yuniasrih dan suwarno (2009:165) menyatakan pada saat sekarang ini seorang pemimpin harus dapat memberi inspirasi kepada bawahannya agar tujuan dari organisasi dapat tercapai. Yang jadi pertanyaannya adalah gaya kepemimpinan yang bagaimanakah yang dapat merealisasikan hal tersebut. Jawabannya adalah Gaya kepemimpinan Delegatif. Mengapa?
Gaya Kepemimpinan Delegatif
Gaya Kepemimpinan adalah suatu ciri khas prilaku seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Dengan demikian maka gaya kepemimpinan seorang pemimpin sangat dipengaruhi oleh karakter pribadinya.
Kepemimpinan delegatif adalah sebuah gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pimpinan kepada bawahannya yang memiliki kemampuan, agar dapat menjalankan kegiatannya yang untuk sementara waktu tidak dapat dilakukan oleh pimpinan dengan berbagai sebab.
Gaya kepemimpinan delegatif sangat cocok dilakukan jika staf yang dimiliki memiliki kemampuan dan motivasi yang tinggi. dengan demikian pimpinan tidak terlalu banyak memberikan instruksi kepada bawahannya, bahkan pemimpin lebih banyak memberikan dukungan kepada bawahannya.
Motivasi Berprestasi
Motivasi merupakan jantungnya dari kegiatan suatu organisasi/lembaga, sebab serendah atau setinggi apa pun tujuan organisasi bila tidak ada motivasi maka tidaklah akan mungkin tercapai tujuan yang diharapkan. Bernard Berellson dan gary A. stainer dalam suryana menyatakan motivasi adalah keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang memberikan energy, mendorong kegiatan atau gerakan dan mengarahkan dan menyalurkan perilaku ke arah pencapaian kebutuhan yang memberikan kepuasan atau mengurangi ketidak seimbangan.
Motivasi berprestasi menurut McClelland dan atkinson adalah upaya untuk mencapai sukses dengan berkompetisi melalui suatu keunggulan. Standar keunggulan yang dimaksud adalah prestasi dirinya sendiri atau orang lain yang telah diraih sebelumnya.
Komponen Motivasi berprestasi
1. Menyukai aktivitas yang prestatif
2. Merasa marah apabila tidak mencapai hasil yang maksimal
3. Memiliki semangat kerja yang tinggi
4. Selalu memilih pekerjaan yang menantang
Kinerja
Kinerja merupakan hasil akhir dari segala kegiatan organisasi.Anwar Prabu Mangkunegara (200;67) mengemukakan pengertian kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja menurut Sedarmayanti adalah 1. sikap mental (Motivasi), 2. Pendidikan, 3. Ketrampilan, 4. manajemen Kepemimpinan, 5 Tingkat penghasilan, 6. gaji dan kesehatan, 7, 8, 9, 10, 11,
Kinerja guru adalah hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang diembannya berdasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu dengan output yang dihasilkan tercermin dengan baik.
Teknik Mengajar
Peranan Pengelolaan Kelas
Peranan Pengelolaan Kelas Dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran Siswa
Oleh Drs. Iwan Rudi Setiawan
Guru SMA PGRI Cililin Kabupaten Bandung Barat
Kualitas belajar siswa dan lulusannya banyak ditentukan oleh keberhasilan seorang Guru dalam mengelola kelas. Sehebat apapun rencana dan tujuan yang ingin dicapai dalam kertas, semuanya akan ditentukan dalam ruangan ukuran 6 x 8 m (kelas). Hasil survey menunjukkan bahwa keterampilaan pengelolaan kelas sangat menetukan keberhasilan proses belajar siswa. Dengan demikian maka apabila seorang guru tidak memiliki keterampilan pengelolaan kelas maka tugas pokok seorang guru tidak akan terpenuhi.
Pengelolaan kelas dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai Classroom Management, itu berarti istilah pengelolaan identik dengan manajemen. Pengertian pengelolaan atau manajemen pada umumnya yaitu kegiatan kegiatan meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, dan penilaian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Wilford A. Weber (James M. Cooper, 1995 : 230) mengemukakan bahwa Classroom manage ment is a complex set of behaviors the teacher uses to establish and maintain classroom condi tions that will enable students to achieve their instructional objectives efficiently – that will enable them to learn. (pengelolaan kelas merupakan seperangkat perilaku yang kompleks dimana guru menggunakan untuk menata dan memelihara kondisi kelas yang akan memampukan para siswa mencapai tujuan pembelajaran secara efisien)
Berdasarkan pengertian di atas maka jelaslah bahwa Guru sebagai pengelola kelas (manager) merupakan seorang pemimpin yang mempunyai peranan yang strategis yaitu seseorang yang memiliki perencanaan tentang kegiatan yang akan dilakukan di kelas, Guru juga seseorang yang melaksanakan rencana tersebut dengan subjek dan objek siswa, Guru juga seorang yang menentukan dan pembuat keputusan (decision maker) dengan strategi yang akan digunakan dengan berbagai kegiatan di kelas, dan guru pula yang akan menentukan alternatif solusi untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang muncul
Guru sebagai seorang pengelola kelas dalam melakukan tugas mengajar di suatu kelas, perlu merencanakan dan menentukan pengelolaan kelas yang bagaimana yang perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi kemampuan belajar siswa yang berbeda serta materi pelajaran yang akan diajarkan di kelas tersebut. Menyusun strategi untuk mengantisipasi apabila hambatan dan tantangan muncul agar proses belajar mengajar tetap dapat berjalan dan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai.
Kesiapan/kondisi kemampuan siswa yang tidak sama satu dengan yang lain merupakan faktor yang nyata ada dalam kelas dan tidak bisa dihilangkan. Sehingga diperlukan strategi yang jitu agar semua siswa dapat menerima materi pelajaran dengan baik serta mampu menunjukkan prestasi.
Pengelolaan kelas memiliki fungsi yang jelas. Tujuan pengelolaan kelas yaitu memotivasi, menegakkan disiplin dan memelihara etika agar KBM dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan sasarannya. Artinya upaya yang dilakukan oleh guru, agar siswa-siswa yang kemampuannya tidak semuanya sama, dapat mengikuti dan menguasai materi pelajaran yang diajarkan guru
Bagaimana mengelola kelas yang efektif . Untuk mengelola kelas yang efektif perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:Pertama, kesepakatan bersama mengenai kontrak belajar selama berada dalam kelas, Kedua, inventarisir kelompok siswa yang bersifat informal. Bila kelompok ini membawa pengaruh yang negative maka harus segera diarahkan kedalam hal yang positif. Ketiga, memberikan coaching clinik (bimbingan) kepada siswa yang apatis, masa bodoh atau bersikap bermusuhan.
Apabila hal tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan konsisten maka tidak akan mungkin menemukan siswa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak patut dilakukan oleh seorang pelajar tat kala didalam ruangan tersebut tidak ada seorang guru.
=====Semoga=====
Oleh Drs. Iwan Rudi Setiawan
Guru SMA PGRI Cililin Kabupaten Bandung Barat
Kualitas belajar siswa dan lulusannya banyak ditentukan oleh keberhasilan seorang Guru dalam mengelola kelas. Sehebat apapun rencana dan tujuan yang ingin dicapai dalam kertas, semuanya akan ditentukan dalam ruangan ukuran 6 x 8 m (kelas). Hasil survey menunjukkan bahwa keterampilaan pengelolaan kelas sangat menetukan keberhasilan proses belajar siswa. Dengan demikian maka apabila seorang guru tidak memiliki keterampilan pengelolaan kelas maka tugas pokok seorang guru tidak akan terpenuhi.
Pengelolaan kelas dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai Classroom Management, itu berarti istilah pengelolaan identik dengan manajemen. Pengertian pengelolaan atau manajemen pada umumnya yaitu kegiatan kegiatan meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, dan penilaian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Wilford A. Weber (James M. Cooper, 1995 : 230) mengemukakan bahwa Classroom manage ment is a complex set of behaviors the teacher uses to establish and maintain classroom condi tions that will enable students to achieve their instructional objectives efficiently – that will enable them to learn. (pengelolaan kelas merupakan seperangkat perilaku yang kompleks dimana guru menggunakan untuk menata dan memelihara kondisi kelas yang akan memampukan para siswa mencapai tujuan pembelajaran secara efisien)
Berdasarkan pengertian di atas maka jelaslah bahwa Guru sebagai pengelola kelas (manager) merupakan seorang pemimpin yang mempunyai peranan yang strategis yaitu seseorang yang memiliki perencanaan tentang kegiatan yang akan dilakukan di kelas, Guru juga seseorang yang melaksanakan rencana tersebut dengan subjek dan objek siswa, Guru juga seorang yang menentukan dan pembuat keputusan (decision maker) dengan strategi yang akan digunakan dengan berbagai kegiatan di kelas, dan guru pula yang akan menentukan alternatif solusi untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang muncul
Guru sebagai seorang pengelola kelas dalam melakukan tugas mengajar di suatu kelas, perlu merencanakan dan menentukan pengelolaan kelas yang bagaimana yang perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi kemampuan belajar siswa yang berbeda serta materi pelajaran yang akan diajarkan di kelas tersebut. Menyusun strategi untuk mengantisipasi apabila hambatan dan tantangan muncul agar proses belajar mengajar tetap dapat berjalan dan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai.
Kesiapan/kondisi kemampuan siswa yang tidak sama satu dengan yang lain merupakan faktor yang nyata ada dalam kelas dan tidak bisa dihilangkan. Sehingga diperlukan strategi yang jitu agar semua siswa dapat menerima materi pelajaran dengan baik serta mampu menunjukkan prestasi.
Pengelolaan kelas memiliki fungsi yang jelas. Tujuan pengelolaan kelas yaitu memotivasi, menegakkan disiplin dan memelihara etika agar KBM dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan sasarannya. Artinya upaya yang dilakukan oleh guru, agar siswa-siswa yang kemampuannya tidak semuanya sama, dapat mengikuti dan menguasai materi pelajaran yang diajarkan guru
Bagaimana mengelola kelas yang efektif . Untuk mengelola kelas yang efektif perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:Pertama, kesepakatan bersama mengenai kontrak belajar selama berada dalam kelas, Kedua, inventarisir kelompok siswa yang bersifat informal. Bila kelompok ini membawa pengaruh yang negative maka harus segera diarahkan kedalam hal yang positif. Ketiga, memberikan coaching clinik (bimbingan) kepada siswa yang apatis, masa bodoh atau bersikap bermusuhan.
Apabila hal tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan konsisten maka tidak akan mungkin menemukan siswa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak patut dilakukan oleh seorang pelajar tat kala didalam ruangan tersebut tidak ada seorang guru.
=====Semoga=====
Subscribe to:
Posts (Atom)













