Translate

Home » » Investasi Pendidikan

Investasi Pendidikan

Return on Investment Biaya Pendidikan

Obsesi masyarakat pinggiran menyekolahkan anaknya agar suatu saat memperoleh penghidupan yang layak, tidak seperti orang tuanya sekarang ini. Oleh karena itu berapapun besarnya biaya pendidikan akan dibayarnya
Kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai tambah (Value added) yang dihasilkan dari lembaga pendidikan baik output maupun pelayanannya. Lulusan pendidikan yang bermutu sudah semestinya memiliki kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan tuntutan dunia kerja dan dapat menjawab tantangan dunia yang semakin kompleks atau Globalisasi (Kesejagatan)
Rate of Return adalah istilah dalam investasi yang diartikan sebagai nilai balik modal atau pulang pokok adalah sebagai hasil atau keuntungan dari kegiatan investasi, dimana pengertian Investasi secara sederhana diartikan sebagai penanaman modal terhadap kegiatan usaha, dengan harapan akan memberikan keuntungan dikemudian hari.
Investasi di bidang Pendidikan dapat dikatakan sebagai katalisator utama pengembangan SDM, dengan anggapan bahwa semakin terdidik seseorang, semakin tinggi pula tingkat kesadarannya terhadap partisipasinya dalam organisasi/ kegiatan lainnya.(Tjutju;Suwatno).
Sebaliknya, bagi orangtua yang mampu, sekolah merupakan investasi, layaknya dalam perdagangan. Mereka berkeyakinan, sekolah mahal itulah yang akan mampu mendidik anak mereka menjadi berkualitas. Akibatnya, ada pula orangtua yang rela berutang untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah yang diyakini berkualitas tersebut. Oleh karena itu, tak mengherankan sekolah mahal tak pernah sepi dari murid baru dari kalangan menengah ke atas. Lantas, bagaimanakah konsep investasi terkait dengan pendidikan tersebut? Apakah itu berarti sekolah bisa semaunya menaikkan biaya pendidikan?
Studi tentang pendidikan dalam sudut pandang ekonomi menggambarkan, bahwa
pendidikan merupakan proses membangun human capital. Dalam istilah lain, pendidikan merupakan investment in people. Dengan demikian, investasi yang dilakukan dalam pendidikan merupakan human investment. Benefit yang akan diperoleh jauh lebih besar daripada benefit investasi fisik. Jika dibandingkan dengan investasi fisik, return on investment pendidikan.
Argumen yang disampaikan pendukung teori itu adalah manusia yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, yang diukur juga dengan lamanya waktu sekolah, akan memiliki pekerjaan dan upah yang lebih baik dibanding yang pendidikannya lebih rendah. Apabila upah mencerminkan produktivitas, maka makin banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi makin tinggi produktivitas dan hasilnya ekonomi nasional akan bertumbuh lebih tinggi.
Benefit pendidikan dapat dibagi dalam dua bentuk. Pertama, private benefit (keuntungan pribadi). Private benefit bisa berbentuk meningkatnya penghasilan dan penghormatan orang lain. Tingkat pendidikan juga menentukan earning yang diperoleh. Beberapa temuan riset yang dipublikasikan Janos Sz Toth dalam Jurnal Adult Education and Development (2007), menunjukkan bahwa (1) Perkiraan efek hasil ekonomi jangka panjang tiap pertambahan satu tahun sekolah berkisar 3 - 6 persen; (2) Naiknya private return setiap tambahan satu tahun sekolah berkisar 4,7 - 6,8 persen. Itu berarti, dengan sekolah satu tahun rata-rata pertambahan penghasilan akan naik 4,7 - 6,8 persen.
Kedua, social benefit. Investasi dalam pendidikan sebagai human investment dapat menghasilkan return on investment (ROI) yang sangat besar, dan memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi pertumbuhan ekonomi negara. Nanang Fatah (2000) menyebutkan, keuntungan ekonomi investasi pendidikan lebih besar daripada investasi fisik dengan perbandingan rata-rata 15,3 dan 9,1 persen.
Selain social benefit yang berhubungan dengan ekonomi negara, pendidikan akan berdampak pula pada menurunnya tingkat kekerasan, kriminal, kejahatan, dan tindakan melanggar hukum lain. Sikap masyarakat yang mencintai lingkungan, kebersihan, kedermawanan dan saling menghormati juga merupakan efek social benefit pendidikan.
Meskipun pembiayaan sangat penting dalam menunjang pelaksanaan pendidikan, penyediaan anggaran pendidikan harus selalu didasari asumsi yang dapat menekan pengeluaran biaya yang tidak perlu. Johns dan Edgar L Morphe (1975) mengemukakan beberapa asumsi yang harus diperhatikan dalam pembiayaan pendidikan. (1) Jika pembiayaan ditingkatkan akan meningkatkan benefit, pembiayaan harus ditingkatkan. (2) Jika benefit sama dengan pembiayaan yang lebih sedikit, pembiayaan harus dikurangi. (3) Apabila administrasi sekolah tidak efektif dan terjadi pemborosan, harus dilakukan perubahan dalam organisasi.
Terhadap pernyataan di atas nampaknya semua orang setuju, namun masih ada sebagian orang yang pesimistis terhadap pernyataan tersebut mengingat hasil (outcome) dari pendidikan tidak dapat berbuat apa-apa. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya lulusan sekolah menjadi penyumbang terbesar dalam pengangguran
Anggapan yang pesimistis menyatakan “jika ingin kaya jangan sekolah” Mengapa? Hal ini dikarenakan dengan sekolah berarti mengabaikan masa-masa usia produktif, artinya pada masa usia sekolah adalah waktunya untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Namun ini perlu disadari situasi tersebut kena bila orang tersebut telah dilandasi dengan kuat jiwa wiraswastanya. Akan tetapi bila tidak memiliki dasar wiraswasta maka orang tersebut akan lebih terpuruk.
Memang dengan sekolah tidak akan diperoleh kekayaan materi yang berlimpah, tetapi khasanah ilmu dan cakrawala pengetahuan akan menjadi bekal dalam mengarungi hidup dan penghidupan. Intinya dengan pendidikan akan menjadikan orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Mengapa berinvestasi di pendidikan?
Prof. Dr. Tjutju Yuniarsih dan Dr. Suwatno, Msi dalam bukunya Manajemen SDM menyatakan bahwa investasi pendidikan memiliki keunggulan kompetitif jika dibandingkan dengan investasi di sektor lain
Pertama, pendidikan dapat dipandang sebagai sarana investasi, akan memberikan implikasi secara ekonomi. Artinya dengan pendidikan akan memberikan kontribusi langsung terhadap pendapatan dan kesejahteraan seseorang. Dalam dunia kepegawaian lulusan tertinggi akan mendapat pangkat dan golongan tinggi pula. Misalnya lulusan SMA, jika ia menjadi Pegawai negeri sipil (PNS) akan memperoleh pangkat II a. Hal ini berbeda dengan lulusan perguruan tinggi (S1) dimana pertama masuk akan memperoleh pangkat dan golongan III a.. Padahal waktu untuk menempuh lulusan Perguruan tinggi atau memperoleh gelar paling lama hanya tujuh tahun, sedangkan rentang waktu dari II a ke III a harus ditempuh selama 16 tahun.
Kedua, pendidikan akan melahirkan lapisan elite sosial. Maksudnya Orang yang berpendidikan akan memiliki nilai lebih dari yang kurang berpendidikan berupa prilaku, wawasan, ketrampilan , keahlian dan kemampuan lainnya yang tidak dimiliki oleh orang yang kurang pendidikan.
Ketiga pendidikan merupakan wahana untuk membangun dan meningkatkan martabat. Pendidikan satu-satunya alat untuk menghasilkan perubahan pada diri manusia (change of agent). Kata kuncinya melalui pendidikan cakrawala dunia akan terbuka lebar, artinya setelah menempuh pendidikan yang tinggi maka apapun yang kita inginkan insya allah akan tercapai. Contoh dengan adanya wacana Calon Presiden harus Sarjana. Apabila seseorang telah memperoleh gelar kesarjanaan maka apabila ada tawaran tersebut berarti dalam dirinya sudah tersedia.
Kaum gurupun pada saat ini berlomba-lomba untuk melanjutkan kuliah baik ke tingkat S1 ataupun ke jenjang S2 agar memperoleh gelar guru profesional. Sebab pada saat sekarang ini tingkat pendidikan sangat diperlukan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan penghasilan bila menjadi guru profesional. Itulah yang dimaksud terbukanya cakrawala..

Rate of Return Biaya Pendidikan
Berdasarkan data pada tahun 1992 di Amerika Serikat seseorang yang berpendidikan doktor memiliki rata-rata penghasilan pertahunnya 55 juta dollar, Master 40 juta dollar, Sarjana 33 juta dollar. Sementara lulusan Sekolah lanjutan berkisar sebesar 19 juta dollar. Sedangkan di Indonesia seorang Sarjana memiliki penghasilan sekitar 3,5 juta rupiah perbulan, Diploma III berpenghasilan 3 juta rupiah. Sedangkan lulusan SMA penghasilan tertinggi berkisar 1, 9 juta rupiah dan SD berpenghasilan 1 juta rupiah setiap bulannya..
Apabila kita hitung-hitung besarnya biaya pendidikan yang telah disetorkan ke sekolah dari tingkat SD hingga Sarjana (tidak termasuk transportasi dan biaya lainnya) adalah sebesar Rp 33.320.000, dengan asumsi tingkat SD menghabiskan biaya sebesar Rp. 4.320.000 , SLTP Rp. 3.600.000,apalagi untuk SD dan SMP terdapat BOS jadi pengeluarannya lebih kecil lagi, SMA diperkirakan menghabiskan biaya Rp. 5.400.000 dan Rp. 20.000.000 untuk perguruan tinggi. Berdasarkan biaya tersebut bila ia seorang sarjana yang bekerja diperusahaan dengan gajinya terkecil sekitar Rp.2.500.000,00 maka rate of returnnya (Kembali modal) adalah setelah 13,28 bulan artinya kurang lebih satu tahun tiga bulan sudah kembali modal. Sedangkan untuk lulusan SMA jika memperoleh gaji Rp. 895.900 (sesuai dengan UMR) maka kembali modalnya selama 14,86 bulan bahkan mungkin kurang jika gajinya di atas Rp.1.000.000.
Upaya Pemerintah
Pemerintahpun dalam upaya meningkatkan Kompetensi siswa (mutu pendidikan) maka pemerintah berinvestasi dengan mendirikan Sekolah Standar Nasional (SSN) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dimana tujuan jangka pendeknya adalah menjadikan siswanya bukan saja dapat dengan mudah memasuki perguruan tinggi akan tetapi diharapkan juga memiliki kemampuan dan keterampilan (kompetensi) yang relevan dengan tuntutan dunia kerja , sehingga dapat menepis bahwa pendidikan itu bukan merupakan beban tetapi benar-benar merupakan investasi jangka panjang yang akan dinikmati oleh anak kita dan negara

Penulis
Drs. Iwan Rudi Setiawan
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : Copyright © 2011. Intisari Pendidikan.blogspot.com - All Rights Reserved