Haruskah Guru menjadi Egonomiks
Kemiskinan akan menjatuhkan seseorang ke lembah kekafiran (Al-Hadist)
Istilah Egonomics, sulit ditemukan dalam berbagai kamus baik kamus ekonomi maupun kamus umum (Besar) bahasa Indonesia. Istilah ini muncul dari pandangan Faith Popcorn sebuah perusahaan konsultasi pemasaran yang meneliti tentang 10 trend utama dalam perekonomian AS. Egonomiks diartikan sebagai hasrat orang-orang untuk membentuk jati diri sehingga mereka akan dipandang dan diperlakukan berbeda dengan orang lain. Biasanya orang-orang ini akan membentuk kelompok kecil dengan misi yang sempit, dengan membeli pakaian, kosmetik, dan perlengkapan lain yang selalu ingin berbeda dengan kebanyakan orang.
Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan profesi guru maka hampir semua guru sudah memiliki kendaraan bermotor (roda dua) entah itu motor tua ataupun motor baru baik memperolehnya secara tunai maupun kredit. Bahkan tidak sedikit yang sudah menggunakan roda empat baik yang keluaran terbaru ataupun yang seken (banyaknya).
Dirasakan atau tidak Egonomiks ini telah merasuki prilaku guru, terkadang mereka membentuk kelompok kecil alias geng dengan anggotanya memiliki strata ekonomi yang sama, bahan pembicaraannya tentu saja seputar perpormance (penampilan), termasuk barang-barang yang mereka miliki dengan membagakan kehebatan-kehebatannya. Dalam contoh kecil lihatlah Handphone (HP) yang dimilikinya, selalu berganti-ganti sejalan dengan model yang baru dikeluarkan oleh pabrik. Para guru pemilik laptop akan membentuk komunitas tersendiri. Mengapa demikian? Tentunya mereka mengindividualisasikan diri melalui kepemilikan agar diperlakukan berbeda dengan yang lain alias eksklusif.
Apakah dengan tidak egonomiks ketinggalan jaman? Bapak-Ibu jangan khawatir sebab yang dilakukan oleh teman-teman kita itu tak seberapa dibandingan dengan artis, apalagi dengan para konglomerat, sebab kekayaan mereka jauh melebihi teman teman kita. Mungkin saja mereka tidak menyadari bahwa itu prilaku egonomiks, namun bila dipertahankan bisa - bisa menjadi egomania
Memang seorang guru harus berpenampilan rapih, namun tidak identik harus berpakaian yang bagus dan mahal. Seorang gurupun harus mengkonsumsi makanan yang bergizi bila tidak, akan berpenampilan loyo yang pada akhirnya berpengaruh kepada murid-muridnya jadi ikut-ikutan loyo, namun tidak seharusnya selalu mendatangi tempat makanan cepat saji. Seorang gurupun membutuhkan perumahan yang nyaman agar tugas-tugasnya yang banyak dikerjakan dirumah dapat dikerjakan dengan baik, namun tidak terlalu menghayal untuk memiliki rumah yang besar dan mewah.
Tidak bijak bila sosok guru yang menjadi tauladan dan identik dengan prototife kesederhanaan dalam penampilan dan prilaku , memaksakan diri untuk kaya atau ingin dianggap kaya raya oleh masyarakat banyak , yang pada ujung-ujungnya terjerat hutang, akibat tergiur oleh banyaknya lembaga keuangan yang menawarkan pinjaman dengan syarat-syarat yang mudah. tanpa memperhitungkan kedepannya.Bila sudah terjadi demikian maka yang berakibat tugas mulianya jadi terbengkalai dan bahkan suasana rumah tangga yang seharusnya adem ayem menjadi bak neraka dunia, suami istri menjadi sering cekcok, dan anak tidak terperhatikan.
Agar tidak terjadi seperti di atas, maka sebaiknya tetaplah berjiwa besar, Qonaah, sembari kreatif mencari cara bijak untuk lebih meningkatkan ekonomi keluarga dan jangan sampai menggadaikan iman kita dan anggota keluarga serta hindari egonomiks. Sebab prilaku Egonomiks tidak pantas diperbuat oleh seorang Guru
Penulis,
Drs. Iwan Rudi Setiawan
Guru SMAN 1 Batujajar Kab. Bandung Barat dan Mahasiswa (S2) Magister Manajemen Bisnis UPI
Translate
Subscribe to:
Post Comments (Atom)












0 komentar:
Post a Comment