Slavin (2005:187) mengatakan bahwa
pada dasarnya para siswa memasuki kelas dengan pengetahuan, ketrampilan
dan motivasi yang berbeda-beda dari rumah. Ketika guru memberikan suatu
materi pelajaran dalam kelas, siswa dalam menerima pelajaran tersebut
ada yang cepat dan ada yang lambat. Untuk mengatasi masalah perbedaan
kecepatan siswa dalam menerima materi dalam kelas dapat digunakan model
pembelajaran Leaning Cycle.
LC
(Learning Cycle) ,yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada
pebelajar (student centered). LC (Learning Cycle) patut dikedepankan,
karena sesuai dengan teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori
belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar
merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi, dan
fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat
tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi
adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi.
Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup
adaptasi dan organisasi (Arifin, 1995).
Ciri
khas model pembelajaran LC(Learning Cycle) ini adalah setiap siswa
secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan
guru yang kemudian hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok
untuk didiskusikan oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok
bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab
bersama. Kelebihan model pembelajaran LC (Learning Cycle) meningkatkan
motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses
pembelajaran., dapat memberikan kondisi belajar yang menyenangkan,
meningkatkan ketrampilan sosial dan aktivitas siswa, membantu siswa
dalam memahami dan menguasai konsep-konsep fisika yang telah dipelajari
melalui kegiatan atau belajar secara berkelompok, sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Sehingga, Model pembelajaran LC
(Learning Cycle) ini cocok diterapkan dalam pembelajaran fisika karena
dapat mengatasi kesulitan belajar siswa secara individu untuk memahami
konsep karena lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah.
Menurut Piaget (1989) model pembelajaran LC (Learning Cycle (5 E)) pada dasarnya memiliki lima fase yaitu:
1. Engagement (Undangan)
Bertujuan
mempersiapkan diri pebelajar agar terkondisi dalam menempuh fase
berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide
mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada
pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan
keingintahuan (curiosity) pebelajar tentang topik yang akan diajarkan
berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula pebelajar diajak membuat
prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan
dalam tahap eksplorasi.
2. Exploration (Eksplorasi)
Siswa
diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil
tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan
dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti
praktikum dan telaah literatur.
3. Explanation (Penjelasan)
Guru
mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri,
meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan
kegiatan diskusi. Pada tahap ini pebelajar menemukan istilah-istilah
dari konsep yang dipelajari.
4. Elaboration (Pengembangan)
Siswa
mengembangkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru melalui
kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving.
5. Evaluation (Evaluasi)
Pengajar
menilai apakah pembelajaran sudah berlangsung baik dengan jalan
memberikan tes untuk mengukur kemampuan siswa setelah menerima materi
pelajaran.
Gambar 1. Langkah-langkah Daur Belajar (Sumber: Johnston, 2001)
Berdasarkan
tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan
di atas, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi
dapat berperan aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka
terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Berdasarkan uraian di atas, LC
dapat dimplementasikan dalam pembelajaran bidang-bidang sain maupun
sosial.
LC (Learning Cycle)
,yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student
centered). LC (Learning Cycle) patut dikedepankan, karena sesuai dengan
teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori belajar yang berbasis
konstruktivisme. LC melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi pebelajar
untuk secara aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara
berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial.
Implementasi LC dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu:
1.
Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna
dengan bekerja dan berpikir.Pengetahuan di konstruksi dari pengalaman
siswa.
2. Informasi baru
dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang
dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu
3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah.(Hudojo,2001)
Dengan
demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan
dari guru ke siswa, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi
merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan
siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih
bermakna dan menjadikan skema dalam diri pebelajar menjadi pengetahuan
fungsional yang setiap saat dapat diorganisasi oleh pebelajar untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Hasil-hasil penelitian di
perguruan tinggi dan sekolah menengah tentang implementasi LC dalam
pembelajaran sain menunjukkan keberhasilan model ini dalam meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar siswa (Budiasih dan Widarti, 2004;
Fajaroh dan Dasna, 2004).
Model pembelajaran LC (Learning Cycle) ini memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. Sintakmatik
Langkah-langkah model pembelajaran LC (Learning Cycle) yakni pada table 2.1 sebagai berikut :
2. Sistem sosial
Sistem
sosial yang berlaku dan berlangsung dalam model Learning Cycle bersifat
demokratis. Setiap siswa diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat
berupa jawaban dan pertanyaan sehingga tercipta suasana belajar yang
aktif. Siswa juga dituntut bekerja sama dengan teman sehingga terjalin
interaksi antar siswa. Maka dari itulah didalam suatu kelompok siswa
dituntut untuk membuat hubungan yang baik antar anggota kelompok
sehingga sikap untuk menghargai sesama dan saling membantu sangatlah
diperlukan.
3. Prinsip reaksi
Guru
berperan sebagai penasehat, konsultan, dan pemberi kritik terhadap
kinerja siswa. Guru berupaya menciptakan kegiatan pembelajaran yang
dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar secara aktif dan juga
guru berupaya menciptakan kegiatan pembelajaran yaang menuntut terjadi
interaksi antara siswa dengan siswa yang lain maupun antara siswa dengan
guru.
Didalam penerapan model
pembelajaran ini, guru melakukan pengendalian terhadap aktivitas
pebelajar pada setiap kelompok, antara lain dengan memberikan penjelasan
materi atau bacaan yang terkait dengan tugas-tugas kelompok.
4. Sistem pendukung
Sistem
pendukung pembelajaran adalah segala sarana yang dapat digunakan untuk
melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sarana pendukung yang diperlukan
untuk melaksanakan model pembelajaran ini adalah, buku paket fisika SMP
kelas VII sebagai referensi siswa untuk mengaitkan informasi dalam
lembar tugas dengan konsep fisika, LKS, papan tulis, alat tulis dan
kartu permainan (cards game)
5. Dampak instruksional
Dampak
instruksional dari model pembelajaran ini antara lain: pemahaman
terhadap konsep, kemampuan menerapkan konsep fisika dalam memecahkan
masalah, kemampuan merespon, bertanya menjawab pertanyaan, memperhatikan
penjelasan guru dan menilai fenomena fisika yang terjadi, serta
kemampuan bersosialisasi.
6. Dampak pengiring
Dampak
pengiring dari model pembelajaran ini antara lain : kemampuan bersikap
jujur, kemampuan menghargai pendapat orang lain, kemampuan memandang
masalah dari berbagai perspektif, kemampuan berpikir divergen atau
berpikir kreatif, memiliki rasa percaya diri, memiliki motivasi belajar,
memiliki keterampilan hidup bergotong royong, diskusi dengan kelompok,
dan bekerja sama dengan teman satu kelompok.
Model LC (Learning Cycle) ini mempunyai kelebihan sebagai berikut:
1. Meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.
2. Siswa dapat menerima pengalaman dan dimengerti orang lain;
3.
Siswa mampu mengembangkan potensi individu yang berhasil dan berguna,
kreatif, bertanggung jawab, mengaktualisasikan dan mengoptimalkan
dirinya terhadap perubahan yang terjadi
4. Pembelajaran menjadi lebih bermakna
Sumber Tulisan : http://learningmodels.blogspot.com/2011/04/2.html














0 komentar:
Post a Comment