Guru Aktor Penentu Suksesnya Kurikulum 2013
Film (Pendidikan) yang berkualitas sangat ditentukan oleh skenario (kurikulum), dan aktor (guru) yang berkualitas pula.
Sudah tidak dapat disangkal lagi ganti mentri ganti kurikulum, sebelumnya dikenal dengan kurikulum KBK, KTSP dan sekarang entah apa namanya, apakah Kurikulum Komprehensip? atau kurikulum Holistik? Jika melihat rencana kurikulum 2013 dengan adanya beberapa mata pelajaran yang akan digabungkan.
Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kurikulum dahulu atau sebelumnya telah banyak melahirkan generasi yang cerdas baik secara spiritual, emosional , dan sosial. Walaupun disaat ini kita menemui beberapa orang yang terjerat berbagai masalah, yang mempermalukan negara tercinta ini, Tapi itu hanya segelintir orang saja , jika dibandingkan dengan yang lurus (baca: tidak bermasalah) jauh lebih banyak yang lurusnya.
Tahun 2013 akan dipukul gong sebagai tanda dimulainya kurikulum baru, dengan tujuan untuk merevisi kurikulum yang ada agar tahun 2045 se abad indonesia merdeka akan terjadi “bangkitnya generasi emas indonesia”. Tentunya untuk mewujudkan visi tersebut Kemendikbud harus merintis sejak sekarang, agar anak yang sekarang berusia 0 – 9 tahun pada tahun tersebut menjadi generasi emas yang dibanggakan.
Dalam upaya memproduksi “film Bangkitnya Generasi Emas Indonesia” inilah maka Kemendikbud merumuskan skenario bersama para pakar pendidikan, stake holder sampai ke kiayi agar skenario yang dibuatnya betul-betul dapat menggambarkan bagaimana film tersebut dapat diterima dan dinikmati oleh masyarakat luas.
Jika film tersebut ingin diterima dan dinikmati oleh semua kalangan masyarakat maka diperlukan aktor yang hebat, sejelek apapun skenario yang dibuat jika diperankan oleh aktor yang baik maka akan baik pula hasilnya. Para Alumni sekolahan akan selalu mengenang bagaimana sang Aktor atau guru berperan membentuk jati diri dan kepribadiannya, sehingga ia merasakan betul pesan-pesan yang disampaikan oleh Aktor ketika memerankannya di depan kelas maupun di luar kelas. Aktor yang baik akan dengan jelas memvisualisasikan dan mendeskripsikan sesuatu yang belum dan akan dialami oleh siswa, sehinggga membuat siswa menjadi berkesan dan selalu mengenangnya hingga masa tua. Saat reunian yang selalu asik dibicarakan adalah bagaimana pesan dan kesan yang diberikan oleh sang Aktor. Tidak atau jarang sekali membicarakan tentang Kurikulum , karena hal ini bisa dikatakan tidak dikenalnya. Demikian pula dengan kita hanya ingat aktor Charles Bronson, Clien Eastwood, Cristien Hakim, atau yang lainnya, sampai kata-kata yang diucapkannya dapat diingat, sedangkan judul film yang dimainkannya mungkin banyak yang terlupakan.
Menjadi seorang aktor yang handal itu tidaklah mudah, ia harus banyak berlatih dengan menggunakan berbagai metode, juga banyak belajar, diskusi, bahkan observasi sebagai wujud untuk menguasai materi yang akan diperankannya. Dan tidak kalah pentingnya adalah harus menunjukkan prilaku atau budi pekerti (kepribadian) yang baik secara konsisten baik di ruangan kelas maupun di luar kelas.
Sementara ini sang produser (Kemendikbud dan Disdik) sekaligus sebagai sutradara jarang sekali memberikan arahan dan bimbingan secara langsung kepada sang aktor agar memiliki kompetensi, padahal berinvestasi terhadap aktor sangat berperan penting dalam proses pembuatan film. Peran sutradara sangat diperlukan untuk memberikan arahannya bagaimanakah cara akting dan dialog yang sebaiknya ditampilkan sehingga bisa menghasilkan film yang bagus.
Oleh sebab itu upgrading dan Investasi terhadap guru selaku aktor harus secara Intens dilakukan oleh sutradara, agar sang Aktor dituntut untuk banyak belajar dan menjiwai apa yang ada dalam skenario tersebut, sehingga pada akhirnya akan menghasilkan film yang bagus dan bermutu. Dan pada akhirnya banyak penonton yang bertepuk tangan pada akhir film (The End).
Penulis
Iwan Rudi Setiawan
Guru SMAN 1 Batujajar Kabupaten Bandung Barat











